Kasus tragis yang menimpa tiga santri di Pondok Pesantren Raudlatussaulatiyah Al Ibrahimy, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya menjadi perhatian publik setelah video kondisi korban beredar luas di media sosial.
Padahal, peristiwa yang merenggut satu nyawa dan menyebabkan dua santri lainnya mengalami luka bakar serius itu terjadi sejak 13 Desember 2025. Namun, kasus tersebut baru mencuat beberapa bulan kemudian hingga akhirnya diambil alih penanganannya oleh Polda NTB.
Kini, penyidik telah menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni seorang santri senior berinisial MR (15) dan pimpinan pondok pesantren AM (55).
Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, insiden bermula sekitar pukul 13.00 WITA ketika lima santri berada di dalam kamar pondok.
Saat itu, MR meminta salah satu korban membeli bensin eceran yang rencananya digunakan sebagai campuran cat untuk mengecat ulang kamar yang dipenuhi coretan.
Setelah bensin dibeli, bahan bakar tersebut kemudian dituangkan ke dalam dua botol air mineral.
Usai proses pengecatan, para santri diketahui menggunakan sisa bensin saat membuat ketapel dengan cara membakar kayu di dalam ruangan yang pintunya sengaja ditutup agar tidak diketahui pengasuh pondok.
Namun, saat api dinyalakan, percikan api justru menyambar sisa bensin yang masih berada di dalam botol plastik hingga memicu kobaran api yang mengenai para korban.
Peristiwa tersebut menyebabkan tiga santri mengalami luka bakar serius. Salah satu korban akhirnya meninggal dunia, sementara dua lainnya harus menjalani perawatan akibat luka bakar yang cukup parah.
Selain mengusut penyebab kebakaran, penyidik juga mendalami dugaan adanya tindakan perundungan yang disebut dialami para korban sebelum insiden terjadi.
Informasi tersebut menjadi salah satu materi yang turut didalami dalam proses penyidikan untuk mengetahui apakah terdapat unsur pidana lain di balik peristiwa tersebut.
Kasus ini semakin menyita perhatian setelah muncul informasi bahwa persoalan tersebut diduga sempat diselesaikan secara internal di lingkungan pondok pesantren sehingga tidak langsung dilaporkan kepada aparat penegak hukum.
Sorotan publik semakin besar setelah video kondisi korban viral di media sosial pada pertengahan 2026.
Sejak saat itu, penanganan perkara diambil alih oleh Polda NTB guna memastikan proses penyidikan berjalan secara menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: