Siapa yang nggak tergoda kalau ada jamu yang diklaim bisa menghilangkan pegal hanya dalam hitungan menit, bikin badan langsung segar, atau membantu menurunkan berat badan dengan cepat?
Buat sebagian orang, efek instan seperti itu dianggap sebagai bukti kalau produknya ampuh. Padahal, menurut Devana Ardiaty, S.Farm., Apt., Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Balai Besar POM di Serang, justru efek yang terasa terlalu cepat bisa menjadi tanda bahwa produk tersebut perlu diwaspadai.
Dalam tulisannya, Devana menjelaskan bahwa jamu dan obat bahan alam pada dasarnya bekerja melalui proses biologis yang berlangsung secara bertahap. Karena itu, apabila sebuah produk herbal memberikan hasil yang terasa terlalu cepat, masyarakat perlu lebih kritis dan bertanya apakah efek tersebut benar-benar berasal dari bahan alami atau justru dari bahan kimia obat yang ditambahkan secara ilegal.
Menurut Devana, sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak mencari produk yang mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Mereka hanya menginginkan hasil yang cepat terasa.
Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh produsen ilegal dengan mencampurkan obat kimia ke dalam jamu agar produknya terlihat lebih ampuh dibanding produk herbal pada umumnya.
"Semakin cepat efek yang dirasakan, semakin besar pula kepercayaan konsumen," tulis Devana.
Padahal, efek yang terlalu instan justru bisa menjadi tanda adanya kandungan obat kimia yang seharusnya tidak terdapat dalam jamu.
Devana Ardiaty, S.Farm., Apt., (Istimewa)
Devana menjelaskan, hingga Juni 2026 BPOM mencatat terdapat 20.877 produk jamu dan obat bahan alam yang memiliki izin edar resmi.
Artinya, mayoritas produk herbal yang beredar di Indonesia telah memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat. Namun, BPOM juga menemukan 449 produk jamu mengandung Bahan Kimia Obat selama periode 2020 hingga 2026.
Sebagian besar merupakan produk ilegal yang menggunakan nomor izin edar palsu, tidak terdaftar, atau izin edarnya telah dicabut.
Berdasarkan hasil pengawasan BPOM, produk yang paling sering ditemukan mengandung BKO adalah:
Ketiganya memiliki pola yang sama, yakni menawarkan manfaat yang bisa dirasakan dalam waktu singkat.
Devana mengungkapkan, pada jamu penambah stamina pria BPOM kerap menemukan kandungan Sildenafil Sitrat, yaitu obat yang penggunaannya seharusnya berdasarkan resep dan pengawasan tenaga kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: