Dinamika Inflasi Ramadan: Analisis Makanan, Minuman, dan Emas hingga 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan tren inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) saat Ramadan dalam lima tahun terakhir menunjukkan pola yang mencolok. Meskipun inflasi tahun 2026 tercatat lebih rendah daripada tahun sebelumnya, ada faktor-faktor yang mendasarinya yang cukup kompleks.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Pada tahun 2022, inflasi Ramadan mencapai 0,95%, dengan fluktuasi yang dipicu oleh komoditas tidak stabil dan inflasi emas. Sekretaris BPS, Ateng Hartono, berbagi pandangannya mengenai dinamika inflasi ini dalam sebuah konferensi pers.
Data dari BPS menunjukkan bahwa inflasi saat Ramadan menjadi fokus perhatian setiap tahun. Angka tertinggi inflasi dalam lima tahun terakhir tercatat pada 2025, mencapai 1,65%.
Penurunan inflasi pada tahun 2026 menunjukan nilai lebih rendah dibanding tahun 2022, tetapi faktor-faktor penyebab inflasi tetap berpengaruh. Ateng Hartono menyebutkan, "Secara umum, komoditas bergejolak, serta komoditas dari makanan, minuman dan tembakau, menjadi penyebab andil inflasi di setiap momen Ramadan."
Unsur utama dalam inflasi Ramadan 2026 adalah inflasi emas. BPS mencatat inflasi emas mencapai 0,19%, memberikan kontribusi signifikan sejak Ramadan 2024.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Pada Februari 2026, inflasi emas mencatat kenaikan tahunan mencapai 8,42%. Angka ini sangat penting, sebab mampu mempengaruhi daya beli masyarakat secara langsung.
Ateng menjelaskan lebih lanjut tentang dampak inflasi emas dan mengungkapkan, "Fenomena inflasi emas memiliki dampak langsung terhadap inflasi keseluruhan, menambah kompleksitas dalam manajemen perekonomian di bulan Ramadan."
Inflasi dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak hanya emas dan makanan. Komoditas yang bergejolak juga berperan dan menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mengendalikan inflasi selama bulan kemenangan ini.
BPS mencatat bahwa sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi. Perubahan harga di sektor ini sangat besar saat permintaan meningkat menjelang hari raya.
Langkah-langkah strategis perlu dicapai untuk menjaga kestabilan perekonomian, terutama saat konsumsi masyarakat meningkat di bulan Ramadan.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: