Indonesia Tidak Akan Kirim Pasukan Militer ke Gaza, Fokus pada Perdamaian
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) untuk Gaza tidak melibatkan operasi militer. Sugiono memastikan bahwa peran ini hanya untuk menjaga perdamaian dan tidak dipengaruhi hubungan diplomatik dengan Israel.
Baca juga: Rumor iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray: Siapakah yang Akan Mengadaptasi eSIM?
Dalam pernyataannya di Washington DC, Sugiono menyatakan, "Karena ini kan bukan kaitannya dengan pengakuan atau ada tidaknya hubungan diplomatik. Ini adalah pasukan yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi."
Sugiono menjelaskan bahwa setiap negara peserta ISF memiliki hak untuk menyampaikan batasan kegiatan melalui 'national caveat'. Dalam hal ini, Indonesia telah memberikan klarifikasi kuat mengenai komitmennya untuk tidak terlibat dalam operasi militer.
Pangkat Indonesia sebagai Deputy Commander ISF menunjukkan tanggung jawab untuk menjaga perdamaian, yang dijelaskan Sugiono, "Ini adalah pasukan yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi."
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Dalam penjelasannya, Sugiono menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak akan melakukan operasi militer atau pelucutan senjata. "National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF, kalau kita tidak melakukan operasi militer, kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia yang lebih menekankan pada misi kemanusiaan dan perlindungan masyarakat sipil, bukan pada agenda militer.
Sugiono menambahkan bahwa pasukan perdamaian memiliki tanggung jawab utama dalam menjaga masyarakat sipil dari kedua belah pihak di Gaza. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia berlandaskan upaya-upaya kemanusiaan, menjadi faktor pivot dalam situasi krisis.
"Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana," jelasnya, memperjelas bahwa fungsi pasukan ini bukan militeristik namun lebih humanistik.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: