BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 14:12 WIB

Inovasi Penelitian Mini Otak Buatan untuk Memahami Penyakit Saraf

Inovasi Penelitian Mini Otak Buatan untuk Memahami Penyakit SarafInovasi Penelitian Mini Otak Buatan untuk Memahami Penyakit Saraf

Ilmuwan baru-baru ini berhasil melatih gumpalan kecil jaringan otak buatan untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana dengan memanfaatkan sinyal listrik.

Baca juga: Kasus Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana

Temuan ini memberikan wawasan baru dalam memahami bagaimana penyakit saraf dapat memengaruhi kemampuan otak dalam proses belajar.

Pengembangan Mini Otak Buatan

Mini otak yang digunakan dalam penelitian ini terbuat dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi kelompok kecil jaringan otak, bukan berasal dari jaringan manusia.

Walaupun mini otak ini tidak cukup kompleks untuk memiliki kemampuan berpikir atau merasakan, ia dapat mengirim dan menerima sinyal listrik, memungkinkan terjadinya interaksi dengan rangsangan eksternal.

Metodologi Penelitian dan Temuan

Dalam penelitian ini, sinyal listrik dikirimkan untuk memberi tahu mini otak tentang kemiringan tiang virtual yang harus diseimbangkan, mirip pola menyeimbangkan penggaris di telapak tangan.

Baca juga: Calvin Verdonk Hampir Bergabung dengan Lille, Klub Terkenal Prancis yang Penuh Talenta

"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," ujar Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz.

Penelitian yang berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids ini membagi mini otak menjadi tiga kelompok percobaan: tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif.

Hasil Penelitian dan Implikasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mini otak tanpa panduan hanya mencapai tolok ukur kinerja 2,3 persen, sementara yang diberi umpan balik acak mencatat 4,4 persen.

Lebih menarik lagi, mini otak yang diberi umpan balik adaptif berhasil mencapai 46 persen dalam kinerjanya. "Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," tambah Robbins.

Namun, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mini otak yang sudah dilatih cenderung 'lupa' dalam waktu 45 menit jika tidak aktif, membatasi potensi penggunaannya.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Inovasi Penelitian Mini Otak Buatan untuk Memahami Penyakit Saraf

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!