Influenza menjadi ancaman kesehatan global yang signifikan dengan perkiraan 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahunnya, tetapi vaksinasi di Indonesia masih sangat rendah, hanya 0,5 per 1.000 populasi.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Korea, yang memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan masyarakat.
Risiko Influenza di Kalangan Dewasa
Influenza bukanlah sekadar selesma, infeksi ini dapat menyebabkan demam tinggi dan komplikasi serius, terutama bagi orang dewasa dan lansia.
Dengan proporsi angka rawat inap yang tinggi dan penurunan produktivitas, influenza menjadi ancaman kesehatan serius yang harus diperhatikan.
Ketua PERALMUNI (Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, menyatakan bahwa gejala influenza dapat berbeda signifikan dibandingkan common cold, dengan potensi komplikasi seperti pneumonia dan perburukan penyakit kronis.
“Influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggisecara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3-4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala,” katanya di Jakarta.
Dia menambahkan, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicukomplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut.
“Vaksinasi influenza tahunan merupakan tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza. Sebab pencegahan jauh lebih baik dibandingkan menunggukomplikasi terjadi,” tambahnya.
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Perkembangan Vaksin Influenza
WHO merekomendasikan penggunaan vaksin influenza trivalent untuk menyesuaikan dengan evolusi strain virus yang ada, karena virus B/Yamagata tidak terdeteksi sejak 2020.
Transisi ke vaksin quadrivalent menunjukkan penyesuaian terhadap epidemiologi virus yang selalu berubah, bukan pengurangan efektivitas.
Prof. Iris menggarisbawahi bahwa kesesuaian galur virus dengan vaksin yang diberikan merupakan faktor utama dalam efektivitas perlindungan.
Pentingnya Edukasi dan Kenaikan Cakupan Vaksinasi
Peningkatan cakupan vaksinasi influenza memerlukan pemahaman yang lebih baik dari masyarakat, karena banyak yang beranggapan influenza bukanlah penyakit serius.
Vaksinasi tahunan sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan risiko tinggi, termasuk yang memiliki komorbid atau lansia.
“Vaksin influenza sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Hal ini penting karena virus influenza terus mengalami mutasi, sehingga komposisi vaksin juga diperbarui secara berkala,” ujar Ketua SatgasImunisasi Dewasa PB PAPDI, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI.
Dr. Sukamto menekankan pentingnya edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai manfaat vaksin, dan juga mengarahkan agar vaksinasi dilakukan sebelum perjalanan ke daerah berisiko.
Untuk mendukung pencegahan penyakit influenza, Kalbe dan Kalventis akan terus memperkuat peran dalam mendukung edukasi kesehatan preventif di Indonesia. Jika masyarakat melakukan perlindungan kesehatan terbaik, dampaknya positif.
“Kami ingin memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat dan terpercaya. Upaya inisejalan dengan komitmen kami untuk menghadirkan solusikesehatan yang berdampak bagi masyarakat luas,” tutup Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: