Iran menolak untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat, mengaitkan keputusan ini dengan situasi yang memanas. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa dialog tidak bisa dilakukan di bawah tekanan.
Baca juga: Kasus Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online Masuki Jalur Pidana
Sikap kritis Ghalibaf ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump, yang dinilai menggunakan ancaman untuk memaksa perubahan dalam jalur diplomasi yang ada.
Kritik Terhadap Kebijakan AS
Ghalibaf menyebut keputusan Presiden Trump sebagai langkah yang merugikan, khususnya dalam konteks kebijakan blokade di Selat Hormuz. "Langkah tersebut merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sudah rapuh dan seharusnya ditegakkan," ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa ancaman dari pihak AS menjadikan perundingan semacam 'meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali perang'. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Iran untuk tetap teguh pada posisinya, tanpa ada negosiasi yang bersifat kompromistis.
Lebih lanjut, Ghalibaf menekankan bahwa Iran bersiap untuk opsi militer baru jika gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan berakhir. Ini menjadi sinyal bahwa Iran tetap waspada terhadap potensi eskalasi yang mungkin terjadi.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Kondisi Terkini di Selat Hormuz
Situasi di Selat Hormuz semakin tegang, di mana AS masih meneruskan blokade terhadap kapal-kapal yang beroperasi di pelabuhan Iran. Tindakan ini dikritik Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Pada hari Jumat, Iran sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz dibuka kembali untuk lalu lintas maritim, namun situasi ini berubah pada hari Sabtu ketika Iran membatasi pergerakan kapal. Pengumuman ini menunjukkan betapa cepatnya kondisi bisa berubah di kawasan yang sudah rawan konflik.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa AS belum memenuhi kewajibannya sesuai dengan kesepakatan yang ada, yang semakin menambah ketegangan di area tersebut.
Pertemuan Pertama AS dan Iran
Baru-baru ini, Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan antara perwakilan AS dan Iran yang berlangsung pada tanggal 11-12 April. Ini merupakan langkah pertama dalam upaya diplomasi setelah hubungan antara kedua negara terputus sejak 1979.
Meskipun pertemuan itu merupakan langkah positif, tidak ditemukan terobosan yang signifikan. Hal ini menggambarkan kesulitan dalam mencapai kesepakatan di antara kedua belah pihak.
Pernyataan dari Trump mengenai pengiriman perwakilan AS ke Islamabad dilakukan tanpa adanya kepastian keikutsertaan pihak Tehran, yang menunjukkan keraguan Iran terhadap komitmen AS dalam proses negosiasi.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: