Perundingan damai di Islamabad antara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Utusan AS, Steve Witkoff, dilaporkan mengalami ketegangan yang tinggi. Insiden hampir adu jotos ini terjadi setelah gagal mencapai kesepakatan setelah negosiasi yang berlangsung selama 21 jam pada Minggu (12/4).
Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae Terkait Kematian Pengemudi Ojol
Ketegangan mencapai puncaknya saat Araghchi dan Witkoff berdebat tentang pengelolaan Selat Hormuz, yang memperjelas pentingnya isu ini dalam konteks hubungan kedua negara. Tentu saja, pertemuan ini menjadi perhatian dunia karena berkemungkinan berdampak pada stabilitas kawasan.
Momen Menegangkan dalam Ruang Negosiasi
Ketegangan dalam perundingan ini dilaporkan oleh jurnalis Turki, Cetiner Cetin, yang menyampaikan melalui cuitan di X tentang hampir terjadinya kekerasan. "Beberapa menit lalu dilaporkan terjadi ketegangan serius antara Menteri Abbas Araghchi dan Witkoff terkait pengelolaan Selat Hormuz, yang nyaris berujung pada perkelahian fisik.. Jangan pernah mengancam pihak Iran," tulis Cetin.
Selain itu, munculnya Wakil Presiden AS JD Vance dalam pertemuan tersebut juga memberikan tekanan tambahan pada negosiasi yang sudah panas. Situasi ini menunjukkan bahwa berbagai kepentingan dan posisi dapat mempersulit pencapaian mufakat dalam diplomasi.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Gagalnya Mufakat dalam Perundingan
Negosiasi yang dimoderatori oleh pemerintah Pakistan ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan damai. Namun, setelah 21 jam berdiskusi, kedua pihak tidak dapat mencapai kesepakatan, dengan isu utama seperti program nuklir Iran dan situasi di Selat Hormuz menjadi pokok perdebatan.
Cetin menambahkan, "Saat ini, negosiasi antara Menteri Abbas Araghchi dan Wakil Presiden JD Vance berlangsung sangat tegang, bahkan nyaris berujung pada konflik terbuka." Hal ini semakin menegaskan betapa sulitnya mencari titik temu dalam situasi yang semakin kompleks.
Latar Belakang Pembicaraan Damai
Perundingan ini merupakan bagian dari usaha berkelanjutan untuk meredakan ketegangan antara AS dan Iran yang telah berlangsung sejak revolusi Islam 1979. Ketegangan ini tidak hanya terkait dengan isu-isu politik, tetapi juga menyangkut aspek keamanan regional yang lebih luas.
Salah satu penghalang utama dalam mencapai kesepakatan yang lebih luas adalah perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran. Kegagalan perundingan ini juga menambah ketidakpastian yang dapat mempengaruhi dinamika keamanan di seluruh kawasan, terutama bagi negara-negara tetangga yang terdampak.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: