Rismon Hasiholan Sianipar, yang terlibat dalam kontroversi ijazah Presiden Joko Widodo, baru saja mengadakan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, pada 13 Maret 2026.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Pertemuan ini diadakan sebagai langkah silaturahmi dan tidak memaparkan agenda lebih lanjut, namun terbukti menghasilkan klarifikasi terkait tuduhan yang berkembang.
Klarifikasi dan Pertemuan di Istana
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar pukul 09.55 WIB, Rismon menjelaskan bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk mempererat hubungan. "Silaturahmi saja lah," tambahnya ketika ditanya oleh wartawan.
Klarifikasi ini muncul setelah Rismon sebelumnya meminta maaf terkait dugaan ijazah palsu Jokowi, yang disambut positif oleh Gibran.
Gibran menekankan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan menghargai langkah Rismon dalam mengklarifikasi pernyataan yang pernah ia buat sebelumnya.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Tuduhan dan Hasil Penelitian Rismon
Rismon merupakan salah satu tersangka dalam kasus yang diselidiki oleh Polda Metro Jaya, bersamaan dengan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma. Mereka menyatakan bahwa ijazah Jokowi adalah palsu berdasarkan penelitian yang tertuang dalam buku 'Jokowi's White Paper'.
Namun, setelah penelitian lebih mendalam, Rismon mengubah pendapatnya. Ia melaporkan tidak menemukan kejanggalan pada ijazah Sarjana Strata 1 Jokowi di Universitas Gadjah Mada.
Rismon mengklaim, "Tidak ada manipulasi digital seperti yang saya simpulkan pada buku Jokowi's White Paper. Artinya apa? Keasliannya terjaga," menekankan keabsahan ijazah tersebut.
Respons Publik dan Dampak Kasus
Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan sosok penting dalam pemerintahan, dengan tuduhan terhadap ijazah Jokowi menjadi isu sensitivitas khususnya menjelang pemilihan umum.
Gibran, sebagai Wakil Presiden, menyoroti pentingnya sikap kooperatif dalam berdemokrasi. Hal ini mencerminkan kedewasaan dalam proses politik di Indonesia.
Pertemuan antara Rismon dan Gibran dapat dilihat sebagai upaya untuk meredakan ketegangan serta membangun kembali komunikasi, yang merupakan elemen penting dalam menjaga stabilitas politik.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: