Jumat, 13 MARET 2026 • 11:29 WIB

Update Terbaru Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz

Author

Update Terbaru Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz

Kapal kargo milik PT Pertamina (Persero) di Selat Hormuz mengalami perkembangan terbaru. Direktur Utama Simon Aloysius Mantiri memberikan informasi bahwa dari empat kapal, dua sudah beroperasi kembali.

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz

Kapal-kapal yang beroperasi, yaitu Paragon dan Rinjani, ditujukan untuk pasar internasional ke Kenya dan India, bukan untuk Indonesia.

Kondisi Kapal Kargo di Selat Hormuz

Dalam konferensi pers di Kantor BPH Migas, Simon menginformasikan bahwa dua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunuro, masih berada di Selat Hormuz. Fokus utama perusahaan saat ini adalah keselamatan para kru.

"Kita juga mendorong supaya tentunya bersama-sama situasi di sana semakin baik. Sehingga kargo-kargo kita bisa kemudian beroperasi dan melewati lokasi itu dengan baik," ungkap Simon.

Pertamina terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak lainnya untuk memastikan situasi di lokasi yang menantang ini tetap terkendali.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR

Strategi Diversifikasi Sumber Bahan Bakar

Dalam upaya mengamankan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri, Pertamina menerapkan strategi diversifikasi sumber pasokan. Simon menjelaskan, "Ada juga dari Afrika, ada dari Amerika dan berbagai tempat lainnya."

Dengan dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak, Pertamina terus berupaya agar pelayanan energi kepada masyarakat berlangsung lancar dan aman.

Selain untuk mengantisipasi masalah di Selat Hormuz, strategi ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan supply dari Timur Tengah.

Pengaruh Situasi Global terhadap Operasional Energi

Situasi di Selat Hormuz memiliki dampak signifikan terhadap pengiriman kargo dan stabilitas pasokan energi global. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut membuat perusahaan energi lebih fokus pada keselamatan operasional.

Simon menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meminimalisasi dampak situasi sulit yang dihadapi. Langkah antisipatif terus dilakukan untuk memastikan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.

Dengan kondisi yang tidak menentu, kesiapan dan adaptasi strategi Pertamina menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU