Laporan terbaru dari intelijen AS menunjukkan bahwa rezim Iran masih kokoh di tengah serangkaian serangan dari AS dan Israel yang berlangsung selama hampir dua minggu.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Informasi ini diambil dari beberapa sumber yang mengamati situasi di lapangan, menegaskan bahwa Iran tidak menghadapi ancaman kolaps dan tetap mengendalikan masyarakatnya.
Stabilitas Kepemimpinan Iran
Menurut sumber-sumber yang memberikan informasi, analisis menunjukkan bahwa rezim Iran tetap dalam kondisi stabil meski target serangan militer termasuk situs nuklir dan pertahanan udaranya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikatakan telah terbunuh, tetapi kepemimpinan ulama masih berfungsi dengan baik. "Rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber.
Kondisi ini menjadi pertimbangan penting bagi pemerintahan AS untuk merumuskan strategi lebih lanjut. Pejabat Israel juga mengakui bahwa serangan militer tidak serta-merta menjamin runtuhnya pemerintah Iran.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Dampak Serangan Militer
Sejak penyerangan dimulai, banyak posisi dalam kepemimpinan Iran, termasuk pejabat senior dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menjadi target, menunjukkan intensitas operasional yang meningkat.
Laporan menunjukkan bahwa IRGC yang ada, termasuk pemimpin sementara setelah kematian Khamenei, tetap memegang kekuasaan yang signifikan. Resolusi baru mengangkat putra Khamenei, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi baru.
Meski ada serangan yang terus berlanjut, situasi di lapangan tetap dinamis. Tidak ada kepastian mengenai perubahan pada struktur kepemimpinan Iran, sesuai dengan temuan dalam laporan tersebut.
Reaksi dan Strategi Pemerintahan AS
Pemerintahan AS saat ini sedang mengevaluasi kehadiran militernya di kawasan, di tengah meningkatnya biaya minyak dan tekanan politik domestik. Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan untuk menghentikan operasi militer ini.
Namun, opsi pengiriman pasukan AS ke Iran tidak sepenuhnya ditutup. Tindakan ini dianggap mungkin untuk mendukung gerakan rakyat Iran agar dapat protes secara aman.
Pernyataan dari pihak AS menunjukkan tidak ada rencana untuk menggulingkan kepemimpinan Iran secara langsung, meskipun Trump sebelumnya mendorong warga Iran untuk "mengambil alih pemerintahan Anda."
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor Setelah Pencabutan Instruksi WFH
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: