Ketegangan geopolitik global kerap membuat pasar keuangan bergejolak. Dalam kondisi seperti ini, banyak investor memilih menahan dana karena khawatir terhadap risiko kerugian.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Namun, ada sejumlah strategi yang bisa dilakukan agar investasi tetap berpotensi menghasilkan keuntungan.
Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad menjelaskan bahwa setiap instrumen investasi memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Aset kripto, misalnya, dikenal memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan instrumen lain seperti emas.
“Kripto sangat volatile, terutama untuk aset seperti coin,” kata Iskandar saat memperkenalkan Pintu VIP di Jakarta.
Meski demikian, ekosistem kripto saat ini semakin berkembang. Tidak hanya mata uang digital seperti Bitcoin, kini sudah ada berbagai aset yang ditokenisasi dalam bentuk kripto, mulai dari saham hingga emas.
“Sekarang sudah ada tokenized stock, ada saham Amerika dalam bentuk kripto, ada emas juga,” jelasnya.
Terkait faktor eksternal seperti harga minyak, Iskandar mengatakan pengaruhnya terhadap kripto tidak terjadi secara langsung. Namun secara umum, pergerakan kripto cenderung mengikuti siklus pasar yang terjadi dalam periode tertentu.
“Kripto itu biasanya bersifat siklikal. Dari sejarahnya, sekitar empat tahun sekali ada fase bull dan bear market,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pola tersebut, penurunan harga kripto pada tahun ini sebenarnya masih sesuai dengan ekspektasi pasar, mengingat periode kenaikan besar terjadi pada tahun sebelumnya.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris
Meski begitu, Iskandar juga mengingatkan bahwa tidak ada instrumen investasi yang benar-benar bebas risiko. Bahkan emas yang dikenal sebagai aset aman pun tetap mengalami fluktuasi harga.
“Emas juga sebenarnya sulit diprediksi. Seminggu yang lalu misalnya sekitar 5.500 dolar per ounce, tapi sekarang bisa turun jadi sekitar 5.100 dolar. Jadi dalam seminggu bisa turun hampir 10 persen,” ujarnya.
Sebab di setiap investasi memiliki risiko yang sebanding dengan potensi imbal hasilnya. “Kalau risikonya tinggi biasanya return-nya juga tinggi. Jadi memang prinsipnya high risk, high return,” katanya.
Untuk investor yang tertarik masuk ke kripto di tengah situasi pasar yang tidak menentu, SVP Strategy & Business PINTU Andy Putra menyarankan strategi pembelian secara berkala atau dollar cost averaging (DCA). Metode ini memungkinkan investor membeli aset secara rutin dalam nominal kecil sehingga harga beli menjadi rata-rata.
“Kalau kita selalu menyarankan DCA, jadi seperti nabung kripto secara rutin dan berkala. Mau harga naik atau turun, nilai modalnya akan terakumulasi dan terata-rata dengan baik,” jelasnya.
Ia mencontohkan strategi sederhana yang bisa dilakukan investor pemula, yakni membeli kripto dengan nominal kecil setiap hari.
“Misalnya pembeliannya Rp11 ribu saja per hari selama satu bulan dan dilakukan terus. Jadi kalau tidak mau trading atau melihat chart terus, tinggal ditutup saja aplikasinya karena pembelian bisa otomatis,” katanya.
Di Indonesia sendiri, minat terhadap kripto terus meningkat. Saat ini jumlah pemilik akun kripto diperkirakan mencapai sekitar 20 juta orang, yang sebagian besar berasal dari kelompok usia milenial hingga Gen Z.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 300 juta jiwa, Andy menilai potensi pertumbuhan pasar kripto di Tanah Air masih sangat besar ke depannya.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: