Sistem keamanan yang canggih seringkali dianggap sebagai benteng tak tertembus. Namun, banyak kebocoran yang terjadi akibat kelalaian manusia yang terlihat sepele.
Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae Terkait Kematian Pengemudi Ojol
Studi menunjukkan bahwa hingga 90% insiden keamanan siber disebabkan oleh human error, menyoroti betapa pentingnya pelatihan dan kesadaran akan risiko yang mengintai.
Definisi dan Pentingnya Kesalahan Manusia dalam Keamanan Sistem
Kesalahan manusia atau human error merupakan faktor signifikan yang mempengaruhi keamanan sistem. Kesalahan ini bisa bermula dari tindakan sepele seperti membuka email phishing atau pengaturan sistem yang keliru.
Meskipun sistem dirancang untuk menjadi seaman mungkin, kembali pada pengguna, tanpa kesadaran dan pelatihan yang memadai, semua investasi dalam teknologi dapat berujung sia-sia.
Contoh nyata dari human error termasuk insiden kebocoran data besar yang melibatkan informasi ribuan pengguna. Hal ini sering kali terjadi karena kesalahan sederhana, misalnya seorang karyawan yang mengklik tautan berbahaya.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Dampak dari Human Error
Akibat dari human error tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga individu pengguna. Ketika data sensitif jatuh ke tangan yang salah, konsekuensinya bisa sangat merugikan dan sulit untuk diperbaiki.
Biaya akibat kebocoran data juga sangat besar, di mana perusahaan dapat kehilangan jutaan dolar terkait downtime dan proses pemulihan setelah insiden.
Di samping itu, reputasi perusahaan dapat hancur dalam waktu singkat. Memulihkan kepercayaan pelanggan bukanlah hal yang mudah dan dapat memakan waktu yang lama.
Strategi untuk Meminimalkan Human Error
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membekali semua karyawan dengan pelatihan intensif tentang keamanan siber. Pelatihan ini mencakup praktik terbaik dan pengenalan terhadap berbagai jenis serangan yang umum terjadi.
Penerapan kebijakan keamanan yang ketat juga sangat diperlukan. Misalnya, menggunakan sistem otentikasi dua faktor dan membatasi akses ke data sensitif hanya untuk individu yang memerlukannya.
Perusahaan juga harus secara rutin menguji dan mengevaluasi sistem keamanannya. Penilaian berkala dapat mengidentifikasi celah yang ada sebelum celah tersebut dieksploitasi.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: