Menteri Perdagangan Budi Santoso mengkonfirmasi bahwa harga beberapa komoditas penting, termasuk Minyakita dan telur ayam, masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang bulan Ramadan.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Data terbaru menunjukkan bahwa harga Minyakita telah mencapai Rp 16.020 per liter, sementara HET ditetapkan pada Rp 15.700.
Tingginya Harga Minyakita
Menurut Menteri Perdagangan, saat ini harga Minyakita tercatat di level Rp 16.020 per liter, sedangkan HET yang telah ditetapkan adalah Rp 15.700. 'Ada memang yang di atas HET, misalnya Minyakita. Nah, Minyakita hari ini harganya Rp 16.020, HET-nya kan Rp 15.700,' katanya dalam konferensi pers di Kemendag, Jakarta Pusat.
Budi menjelaskan bahwa faktor utama yang menghambat penurunan harga Minyakita adalah proses distribusi dari produsen ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 'Secepatnya ya,' tutupnya mengenai harapannya agar harga dapat kembali normal.
Sebelum perubahan kebijakan, harga Minyakita bahkan tercatat lebih tinggi, mencapai rata-rata Rp 16.800. Ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam pengendalian harga komoditas ini.
Baca juga: Alexander Isak Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas
Kondisi Harga Telur Ayam
Selain Minyakita, harga telur ayam juga menjadi sorotan, tercatat di level Rp 30.750 per kilogram, jauh di atas HET yang ditetapkan hanya Rp 30.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan konsumen terkait ketersediaan dan aksesibilitas pangan menjelang Ramadan.
Meski harga telur ayam meningkat, Budi menilai komoditas pangan lainnya tetap stabil dan berada di bawah harga acuan. Untuk contoh, harga daging sapi nasional mencapai Rp 133.618 per kilogram, yang lebih rendah dari HET sebesar Rp 140.000.
Informasi ini penting bagi masyarakat untuk memahami variasi harga yang ada dan menyiapkan anggaran belanja mereka di bulan puasa.
Transparansi Data Harga
Kementerian Perdagangan menekankan pentingnya transparansi dalam data harga, memastikan bahwa publik dapat mengakses informasi ini dengan mudah. 'Yang lain-lain bagus. Misalnya daging sapi, ini rata-rata nasional Rp 133.618. Harga acuannya atau harga eceran tertingginya itu Rp 140.000. Ya, berarti masih di bawah harga acuan,' ungkap Budi.
Transparansi ini dimungkinkan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), yang telah disiapkan untuk membantu masyarakat dan media memantau perkembangan harga secara real-time.
Budi juga mencatat harga bawang putih yang rata-rata nasional sebesar Rp 36.875, dengan HET yang ditetapkan Rp 38.000, menunjukkan bahwa ada beberapa komoditas yang masih dapat dikelola dengan baik.
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: