Hujan ekstrem dan peningkatan frekuensi siklon tropis di Indonesia semakin menjadi perhatian imbas krisis iklim global. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa pergeseran pola cuaca ini berkontribusi pada bencana hidrometeorologi yang merugikan di berbagai daerah.
Baca juga: Polisi Tangkap ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Menurut Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama di BRIN, perubahan iklim telah menciptakan ancaman baru di atmosfer. 'Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata,' tegasnya, merujuk pada dampak yang dirasakan oleh masyarakat.
Peningkatan Intensitas Hujan dan Siklon Tropis
Eddy Hermawan mengungkapkan bahwa intensitas hujan yang tinggi merupakan konsekuensi langsung dari krisis iklim yang sedang berlangsung. Contoh nyata adalah siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia yang merugikan, terutama di Jakarta serta pantai utara Jawa.
Hujan ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat biasanya disebabkan oleh gelombang atmosfer ekuatorial. Sementara itu, hujan berkepanjangan umumnya dipicu oleh fenomena iklim lebih besar, seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD).
'Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer,' jelasnya, menekankan bahwa fenomena besar seperti IOD memberikan pengaruh besar terhadap pola curah hujan yang tidak normal di tanah air.
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Pengaruh Geografis dan Angin
Posisi geografis Indonesia di jalur Asian Monsoon membuat uap air dari Asia mudah memasuki wilayah Jakarta, yang merupakan dataran aluvial dengan pantai landai. 'Kondisi tersebut memicu terbentuknya pusat tekanan rendah,' ujarnya.
Pusaran atmosfer yang muncul berpotensi menyebabkan pengurangan daya dukung lingkungan. Dalam lapisan atmosfer tertentu, angin baratan dan timuran bertemu, menghasilkan hujan lebat terfokus dalam waktu lama.
Kombinasi hujan deras dan lanskap urban Jakarta yang minim daya serap air membuat ibu kota semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Upaya Mitigasi dan Saran Kebijakan
Eddy menekankan pentingnya transformasi sistem peringatan dini untuk bencana hidrometeorologi. 'Pendekatan konvensional tidak lagi memadai,' tegasnya sambil menyarankan pemanfaatan teknologi seperti AI, big data, dan machine learning.
Hasil penelitian BRIN diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mitigasi bencana dan perumusan kebijakan berbasis sains. Dengan begitu, manajemen risiko hidrometeorologi dapat ditingkatkan.
Ia juga menunjukkan bahwa masalah banjir tidak semata-mata disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga akibat perubahan tutupan lahan yang berpengaruh pada daya serap air. 'Lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi beban dari fenomena hidrometeorologi ekstrem,' pungkasnya.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: