Presiden RI Prabowo Subianto memberikan tanggapan tegas atas tuduhan yang mengaitkan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan perang. Dalam pidatonya pada 13 Februari 2026 di Jakarta, ia menolak kritik tersebut dan menegaskan bahwa TNI tidak pernah menyerang lokasi sipil.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Menghadapi berbagai tuduhan, Prabowo menunjukkan bukti-bukti sejarah yang mendukung integritas TNI. Ia berpendapat bahwa klaim pelanggaran oleh TNI harus dilihat secara objektif dan tidak terburu-buru.
Pernyataan Tegas Prabowo untuk TNI
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan, 'Jenderal-jenderal kita yang paling hebat, paling jago, dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM, rasanya TNI enggak pernah ngebom rumah sakit, selama sejarahnya TNI, rasanya TNI enggak pernah bom panti asuhan, sekolah, bom gereja atau masjid.' Pernyataan ini merupakan bantahan yang kuat terhadap sejumlah tuduhan yang dianggap tidak berdasar.
Ia juga menekankan perlunya memisahkan fakta dari opini dalam membahas peran TNI. Prabowo menunjukkan pentingnya pengamatan yang objektif terhadap sejarah dan perilaku TNI dalam konteks perlindungan hak asasi manusia.
Menurutnya, masyarakat perlu melihat rekam jejak yang lebih luas dan mempertimbangkan berbagai fakta terkait keterlibatan TNI dalam sejarah Indonesia.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Kritik Terhadap Negara-Negara Barat
Prabowo juga tidak segan untuk menyampaikan kritik terhadap negara-negara barat yang sering mengkritik standar HAM di Indonesia. Ia menyatakan, 'Negara-negara barat yang ngajarin HAM ke kita, saya enggak mau banyak komentar lagi lah, anda tau maksud saya.'
Kritik tersebut muncul dari pengamatannya mengenai ketidak konsistenan antara pernyataan dan tindakan negara-negara tersebut dalam hal penghormatan terhadap HAM. Ia berpendapat bahwa banyak negara barat menerapkan standar yang berbeda untuk diri mereka sendiri dibandingkan dengan negara lain.
Hal ini menunjukkan adanya bias dalam kritik yang dilakukan oleh negara-negara tersebut, semestinya mereka meneliti dan memperbaiki catatan HAM mereka sendiri.
Peran Sejarah TNI dalam Konteks HAM
Diskusi mengenai TNI dan pelanggaran HAM memang kerap muncul dalam percakapan tentang sejarah Indonesia. TNI telah berperan dalam berbagai konflik di tanah air, namun selalu berpegang pada prinsip perlindungan warga sipil.
Prabowo menekankan pentingnya untuk memahami peran TNI dengan lebih komprehensif. Ia mengajak semua pihak untuk lebih kritis dan obyektif dalam menilai sejarah serta kontribusi TNI.
Isu ini menjadi penting untuk dipahami, terutama dalam konteks bagaimana sejarah TNI dibaca dan diterima di masyarakat.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: