Jumat, 16 JANUARI 2026 • 10:27 WIB

Dugaan Penelantaran: Ressa Menggugat Denada untuk Diakui Sebagai Anak Kandung

Author

Dugaan Penelantaran: Ressa Menggugat Denada untuk Diakui Sebagai Anak Kandung

Ressa Rizky Rossan, pemuda asal Banyuwangi berusia 24 tahun, menggugat penyanyi Denada karena dugaan penelantaran anak dan pelanggaran hukum. Dalam gugatan ini, Ressa menuntut pengakuan sebagai anak kandung serta ganti rugi sebesar Rp 7 Miliar.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat

Gugatan resmi diajukan pada 28 November 2025, dengan tim hukum Ressa yang dipimpin oleh Mohammad Firdaus Yuliantono, memastikan telah menyiapkan bukti-bukti untuk mendukung tuntutannya.

Detail Gugatan dan Tuntutan

Gugatan terhadap Denada diajukan di Pengadilan Negeri, di mana Ressa menyatakan dirinya telah ditelantarkan. Dalam proses ini, tim hukum Ressa menunjukkan keseriusan mereka dengan membawa bukti yang relevan.

Mohammad Firdaus Yuliantono, selaku kuasa hukum Ressa, menegaskan, "Bukti sudah disiapkan," menunjukkan kesiapan mereka untuk melanjutkan proses hukum.

Ressa tidak hanya menuntut pengakuan anak, tetapi juga meminta ganti rugi yang cukup besar, yakni Rp 7 Miliar. Ini menjadi momen penting dalam perjalanan hukum yang sedang berlangsung.

Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat

Kesiapan Melaksanakan Tes DNA

Sebagai bagian dari proses hukum, Ressa menunjukkan kesediaan untuk melakukan tes DNA sebagai bukti sah jika diperlukan. Firdaus menekankan pentingnya tes tersebut dalam memperkuat klaim yang diajukannya.

"Tes DNA sebuah keniscayaan jika perlu pembuktian. Kalau diperlukan, kami akan mengajukan izin untuk melakukan tes DNA," ungkap Firdaus.

Dengan langkah ini, Ressa berharap agar klaimnya mendapatkan pengakuan yang sejati dan adil di mata hukum.

Respon Pihak Denada

Manajemen Denada telah merilis pernyataan resmi terkait gugatan yang diajukan Ressa. Mereka mengungkapkan bahwa isu ini adalah urusan pribadi yang perlu dihormati.

"Kami sangat prihatin atas isu publik yang berkembang. Sebenarnya ini adalah ranah keluarga, karena bagaimanapun juga setiap keluarga memiliki privasi dan ceritanya masing-masing," ujar perwakilan manajemen.

Denada berharap agar semua pihak memberikan ruang bagi mereka untuk menyelesaikan masalah ini secara internal, tanpa disertai tekanan publik.

Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU