Keberadaan tempe sebagai superfood kini semakin diperkuat oleh berbagai penelitian yang menunjukkan manfaat kesehatan yang luar biasa. Tak hanya sekadar lauk, tempe juga diakui berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengungkap potensi tempe sebagai sumber protein yang berkualitas, serta beragam manfaat lain yang mendukung kesehatan masyarakat Indonesia.
Peranan Tempe dalam Kesehatan dan Ketahanan Pangan
Tempe saat ini lebih dari sekadar lauk rumahan; ia merupakan salah satu pilar penting dalam mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). "Tempe memiliki potensi besar dalam pengembangan pangan fungsional," ungkap Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN.
Dengan keberagaman hayati yang dimiliki Indonesia, tempe bisa menjadi alternatif protein yang berharga. Satriyo Krido Wahono, Kepala PRTPP BRIN, menekankan, "Tempe ini menjadi salah satu superfood Indonesia yang akan kami eksplorasi lebih jauh."
Riset yang terfokus pada tempe diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan efektivitasnya sebagai produk pangan. Sejalan dengan itu, kebutuhan masyarakat akan nutrisi yang berkualitas terus meningkat.
Baca juga: Kunto Aji Menyuarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Harapan Masyarakat
Manfaat Kesehatan Tempe
Tempe menawarkan beragam manfaat kesehatan yang signifikan. Menurut Puji Lestari, tempe memiliki sifat antidiare, antidiabetik, antihipertensi, antikanker, antioksidan, serta antibakteri.
"Ini penting bagi pengembangan pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat," katanya. Dengan pemahaman yang mendalam tentang manfaat ini, pengembangan produk tempe semakin relevan.
Andri Frediansyah dari PRTPP BRIN menambahkan bahwa peran mikroba dan teknologi bioproses sangat penting untuk meningkatkan kandungan isoflavone aglycone pada tempe. Isoflavon yang ada awalnya dalam bentuk glikosida dapat dikonversi menjadi aglikon yang lebih mudah diserap oleh tubuh.
Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas Tempe
Berbagai teknologi seperti ko-fermentasi, proses germinasi, serta teknik fisika seperti ultrasound dan high pressure processing mulai diterapkan untuk meningkatkan kualitas tempe. Fred menjelaskan, "Teknik-teknik ini memecah struktur sel sehingga enzim alami pada kedelai lebih mudah mengonversi isoflavon glikosida menjadi aglikon."
Proses fermentasi yang melibatkan kapang Rhizopus dan bakteri memungkinkan konversi yang lebih efisien terhadap isoflavon. Hal ini bisa meningkatkan bioaktivitas isoflavonoid dalam produk kedelai.
Dengan strategi tersebut, diharapkan produk berbasis kedelai dapat memiliki kandungan aglikon yang lebih tinggi, menjadikan tempe sebagai superfood yang lebih efektif bagi kesehatan masyarakat.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: