Suhu Panas Melanda Jawa Tengah: BMKG Berikan Penjelasan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan suhu yang terasa panas di berbagai daerah di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Cilacap. Fenomena ini disebabkan oleh pergerakan semu matahari yang menuju belahan bumi utara.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca saat ini terpantau cerah dengan minimnya tutupan awan. Hal ini memungkinkan sinar matahari langsung menyentuh permukaan bumi.
Pada tanggal 12 Maret 2026, suhu udara maksimum di Cilacap tercatat mencapai 32,6 derajat Celsius, masih dalam kategori normal. Data ini dibandingkan dengan 30 tahun terakhir, menunjukkan stabilitas suhu.
Teguh Wardoyo menambahkan bahwa suhu maksimum di Cilacap pada bulan Maret pernah mencapai 35,3 derajat Celsius pada tahun 2012. "Suhu udara yang terjadi saat ini masih di kisaran 33 derajat Celsius," ungkapnya.
Dengan catatan suhu saat ini berada di bawah rekor tertinggi pada tahun 2012, ini menjadi indikator positif bagi stabilitas cuaca wilayah tersebut.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
BMKG memperkirakan suhu udara akan terus meningkat seiring dengan pergerakan semu matahari. Teguh menjelaskan bahwa saat ini angin di Cilacap berarah barat dengan kecepatan antara 5-30 kilometer per jam.
Hingga 12 Maret 2026, diprediksi terdapat tujuh hari dengan hujan berintensitas ringan hingga sedang. Namun, cuaca diperkirakan cenderung cerah hingga berawan dengan Maksimum suhu mencapai sekitar 33 derajat Celsius.
Curah hujan di Cilacap bagian tengah, timur, dan selatan diperkirakan berkisar antara 151 hingga 300 milimeter per bulan. Sementara itu, Cilacap bagian barat diprediksi memiliki curah hujan antara 301 hingga 400 milimeter.
Meskipun saat ini belum terlihat tanda-tanda kuat transisi dari musim hujan menuju kemarau, Teguh menyatakan bahwa beberapa wilayah, termasuk Pulau Jawa, mungkin akan memasuki musim kemarau lebih awal pada bulan April.
"Belum ada tanda-tanda, tapi kelihatannya segera masuk transisi pada dasarian ketiga bulan Maret," tegasnya. Ini menunjukkan perlunya masyarakat untuk bersiap menghadapi perubahan cuaca yang akan datang.
Baca juga: Calvin Verdonk Hampir Bergabung dengan Lille, Klub Terkenal Prancis yang Penuh Talenta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: