BPOM Temukan Sumber Pangan Ilegal Terbesar dari Malaysia dan Singapura
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja mengungkapkan bahwa sebagian besar produk pangan olahan ilegal yang beredar di Indonesia berasal dari Malaysia dan Singapura.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memaparkan hasil pengawasan ini dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2026.
Dalam periode pengawasan, BPOM mencatat bahwa 70,4 persen produk pangan tanpa izin edar berasal dari Malaysia. Sementara itu, 11,3 persen berasal dari Singapura, dan 10,4 persen dari China.
Thailand juga menyumbang 2,2 persen dari total produk pangan bermasalah. Kegiatan pengawasan ini melibatkan pemeriksaan 1.134 sarana di 38 provinsi di Indonesia.
Pemeriksaan menunjukkan bahwa produk yang paling banyak ditemukan adalah dari ritel modern, yang mencakup 50,2 persen, diikuti oleh ritel tradisional dengan 32,5 persen. Sarana lainnya termasuk gudang distributor, importir, serta platform e-commerce.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Sehari Sebelum Aksi
Dari 1.134 sarana yang diperiksa, hanya 739 yang memenuhi ketentuan, sementara 395 sarana lainnya tidak memenuhi. BPOM menemukan sebanyak 27.407 produk pangan tanpa izin edar.
Selain itu, sebanyak 23.776 produk ditemukan dalam keadaan kedaluwarsa, dan 4.844 produk berada dalam kondisi rusak. Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap produk pangan di pasar.
Taruna Ikrar mengungkapkan, 'Tingginya temuan pangan tanpa izin edar dipicu oleh permintaan konsumen yang mendorong pasokan ilegal melalui jalur tidak resmi.'
BPOM juga mencatat beberapa daerah dengan jumlah temuan pangan ilegal tertinggi. Palembang menjadi yang teratas dengan 10.848 produk, diikuti oleh Batam dengan 2.653 dan Palopo dengan 2.756 produk.
Selain itu, daerah Sanggau mencatat 1.654 produk ilegal, dan Tarakan 1.305 produk. Jenis pangan yang paling banyak ditemukan terdiri dari bumbu dan kondimen, makanan ringan, serta produk olahan daging.
BPOM mengharapkan pengawasan yang lebih ketat dapat mengurangi risiko kesehatan masyarakat, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yang akan datang.
Baca juga: Calvin Verdonk Hampir Bergabung dengan Lille, Klub Terkenal Prancis yang Penuh Talenta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: