Tantangan BPJS Kesehatan: Lonjakan Biaya Akibat Penyakit Gagal Ginjal
Pada tahun ini, BPJS Kesehatan menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya jumlah kasus penyakit katastropik, terutama gagal ginjal. Penyakit ini kini menyumbang signifikan terhadap biaya layanan kesehatan yang semakin membengkak.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia
Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Sutopo Patria Jati, menekankan perlunya pengendalian penyakit mahal ini dalam konferensi pers terbaru. Di tengah fenomena ini, banyak yang bertanya-tanya bagaimana strategi ke depan untuk menjaga keberlanjutan sistem kesehatan.
Statistik menunjukkan adanya pergeseran dalam peta penyakit yang membebani anggaran BPJS Kesehatan. Pada tahun 2024, penyakit jantung menduduki posisi puncak dengan 22,55 juta kasus yang menghabiskan biaya Rp 19,25 triliun.
Namun, pada tahun 2025 terlihat bahwa gagal ginjal meningkat menjadi 12,68 juta kasus dengan biaya Rp 13 triliun, menunjukkan bahwa pengelolaan penyakit ini membutuhkan perhatian lebih.
Kanker, yang sebelumnya di posisi kedua, kini turun ke nomor tiga dengan 7,19 juta kasus dan biaya Rp 10,3 triliun. Di sisi lain, stroke tercatat dengan 9,53 juta kasus seiring biaya yang diperlukan sebesar Rp 7,2 triliun.
Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dalam setahun terakhir, kasus gagal ginjal mengalami lonjakan signifikan, bahkan mencapai hampir sembilan kali lipat. Lonjakan ini menjadi perhatian serius bagi sistem layanan kesehatan.
"Penyakit berbiaya mahal atau katastropik ada sekitar tujuh, sudah menghabiskan sekitar 26,42 persen per tahunnya dari beban pelayanan pembiayaan BPJS Kesehatan," papar Sutopo Patria Jati.
Kenaikan biaya ini erat kaitannya dengan kebutuhan terapi jangka panjang seperti hemodialisis yang harus dijalani oleh pasien secara rutin. Hal ini semakin memperparah situasi keuangan BPJS Kesehatan.
Penyakit jantung masih menunjukkan tren peningkatan dari 22,55 juta menjadi 29,73 juta kasus. Namun, biaya yang dikeluarkan malah mengalami penurunan dari Rp 19,25 triliun menjadi Rp 17 triliun, menandakan pergeseran dalam pola klaim.
Di sisi lain, kanker dan stroke juga melaporkan peningkatan, tetapi tidak secepat gagal ginjal. Ini menekankan perlunya strategi yang lebih baik dalam perencanaan kesehatan ke depan.
Dengan beban biaya pertumbuhan yang sangat signifikan akibat penyakit katastropik, BPJS Kesehatan perlu mengadopsi langkah cepat dan strategis untuk menjaga keberlanjutan dan efisiensi layanan.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: