Politik Pemilu Israel: Serangan terhadap Iran Dianggap sebagai Strategi Netanyahu
Menjelang pemilihan umum mendatang, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dituduh mengambil langkah kontroversial dengan menyerang Iran sebagai upaya untuk memperbaiki citranya yang terpuruk.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Serangan ini dilihat sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik dan memperlambat pengesahan anggaran yang dapat menempatkan pemerintahannya dalam bahaya pada 1 April 2026.
Konflik antara Israel dan Iran kini menjadi alat bagi Netanyahu untuk mengangkat kembali popularitasnya di mata publik dan parlemen, terutama setelah serangan brutal Hamas yang terjadi pada 7 Oktober 2023.
Sebagai pemimpin terlama Israel, Netanyahu kini menghadapi tekanan tinggi dari lawan politik serta kritik atas dukungan parlemen yang semakin berkurang, sementara kasus korupsi yang menjeratnya semakin memperburuk keadaan.
Serangan terhadap Iran, terutama di tengah situasi yang genting, tampak sebagai langkah untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu internal dan memperkuat posisi politiknya menjelang pemilu pada 27 Oktober 2026.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Serangan yang diluncurkan sebelum batas waktu 30 Maret 2026 diinterpretasikan sebagai cara untuk menunda persetujuan anggaran yang sangat dibutuhkan oleh pemerintahan Netanyahu.
Analis seperti Emmanuel Navon berpendapat bahwa Netanyahu tidak dapat menunggu hingga pemilu di bulan Oktober, mengingat tantangan besar yang dihadapinya saat ini.
Dengan menunjukkan keberhasilan militernya, Netanyahu berusaha untuk meraih dukungan dari sekutu dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.
Meskipun dukungan publik terhadap militer Israel mengalami kenaikan, popularitas Netanyahu sendiri justru dipertanyakan oleh banyak pihak.
Michael Horowitz menegaskan bahwa meskipun kesuksesan di lapangan perang dapat memperbaiki citra Netanyahu, risiko akan tetap ada jika konflik ini berlangsung lama dan tidak segera mereda.
Secara keseluruhan, banyak analis sepakat bahwa meski kemenangan di perang menguntungkan, dukungan untuk pemerintahannya tidak otomatis akan meningkat, terutama dalam konteks kritik yang lebih besar terhadap kepentingan politik domestik Netanyahu.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: