Tantangan Masyarakat dalam Menghadapi Obesitas di Indonesia
Hari Obesitas Sedunia yang diperingati pada 4 Maret menjadi pengingat penting akan meningkatnya risiko obesitas di Indonesia. Edukasi terkait pencegahan obesitas semakin mendesak di tengah gaya hidup modern saat ini.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia dan Siap Memperkuat Timnas
Prevalensi obesitas nasional menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Dengan angka ini, masyarakat dihadapkan pada tantangan besar terkait kesehatan dan kebiasaan pola makan.
Menurut data terbaru, obesitas pada penduduk berusia 18 tahun ke atas telah meningkat, menunjukkan adanya pola konsumsi kalori berlebih dalam jangka panjang. Keadaan ini disebabkan oleh perilaku makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.
"Kalau kita lihat beberapa terkait penyakit tidak menular, trennya sejak 3 dekade terus meningkat. Saat dilakukan intervensi meningkat dan biaya BPJS Kesehatan paling besar itu penyakit tidak menular," ujar Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dari Kementerian Kesehatan RI.
Hasil pengukuran Indeks Masa Tubuh (IMT) dari 33 juta masyarakat menunjukkan 11,87 persen peserta dewasa mengalami obesitas. Di samping itu, sekitar 23,85% dari partisipan terdeteksi mengalami obesitas sentral.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Untuk menyikapi situasi ini, Nutrifood bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan meluncurkan kampanye #BatasiGGL, yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak. Kampanye ini aktif sejak tahun 2013 dan terus berupaya meningkatkan kesadaran publik.
"Label batasi GGL ini penting dilakukan dan obesitas umumnya bukan terjadi saat ini, karena ada sebuah proses dan gaya hidup kita, kalau sudah mulai obesitas sudah pasti lebih cepat kena penyakit jantung, stroke, ginjal berisiko lebih besar," tambah Nadia.
Selain itu, masyarakat dikampanyekan untuk meningkatkan literasi membaca label kemasan pangan olahan. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat membuat pilihan yang lebih bijak terkait asupan nutrisi harian.
Pangan olahan kini menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat modern, namun sering kali informasi mengenai bahan dan kalori tidak dipahami dengan baik. Dr. Puspo Edi Giriwono, STP., Magr., dari SEAFAST Center IPB menjelaskan pentingnya edukasi untuk memahami proses pengolahan bahan.
"Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas," tuturnya.
Masyarakat diharapkan dapat terlibat dalam pilihan makanan yang lebih sehat untuk mengurangi risiko obesitas. Edukasi yang tepat dan berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.
Baca juga: Tips Membuat Kamar Kecil Menjadi Nyaman dan Menyenangkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: