Kanker Usus Besar Makin Menyerang Generasi Muda di Indonesia
Kanker usus besar kini menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada mereka yang berusia di bawah 50 tahun di Indonesia, sesuatu yang patut diwaspadai. Data terbaru menunjukkan kenaikan signifikan dalam kasus serta angka kematian, mengisyaratkan perlunya pengetahuan lebih lanjut tentang gejala serta skrining kesehatan yang lebih awal.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris
Kasus kanker usus besar semakin marak terjadi di Indonesia, terutama pada individu di bawah 50 tahun, yang mengharuskan kita untuk lebih peduli. Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi di negara lain, di mana kanker kolorektal kini menjadi penyebab utama kematian kanker di kalangan dewasa muda.
Sebagai contoh, seorang wanita bernama Jenna Scott yang didiagnosis mengidap kanker usus besar stadium 4 di usianya yang masih 31 tahun, melambangkan pengalaman pahit yang harus dihadapi banyak orang. Penelitian dari berbagai jurnal medis menunjukkan bahwa sejak tahun 2005, angka kematian akibat kanker usus besar di kalangan muda meningkat 1,1% setiap tahunnya.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Para ahli mengindikasikan bahwa lonjakan angka kematian ini berasal dari ketidakpastian penyebab mengapa kanker usus besar kini lebih sering terjadi di kalangan yang lebih muda. Dr. Ahmedin Jemal dari American Cancer Society menyatakan, 'Kita tidak tahu pasti mengapa ini meningkat. Ini tidak bisa lagi disebut sebagai penyakit orang tua.'
Melihat hal ini, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap berbagai faktor yang mungkin berkontribusi. Terutama perhatian harus diberikan kepada generasi yang lahir setelah tahun 1950, yang menunjukkan angka paparan lebih tinggi terhadap penyakit ini.
Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis kanker usus besar pada individu muda adalah keterlambatan dalam penanganan. Bahkan, sekitar 60% pasien di bawah 50 tahun baru terdiagnosis saat kondisi mereka sudah mencapai stadium 3 atau 4, yang disebabkan tidak adanya skrining rutin.
Gejala yang sering kali tidak disadari meliputi darah dalam tinja, perubahan kebiasaan buang air besar yang berlangsung lebih dari beberapa hari, serta nyeri perut yang tidak kunjung reda. Para ahli kesehatan menyarankan agar skrining rutin dimulai sejak usia 45 tahun untuk mengkurangi risiko terjadinya kondisi yang lebih parah.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: