Pusat Penelitian Rumput Laut Internasional Didirikan di Lombok
Indonesia mulai membangun International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pusat riset ini bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat riset rumput laut dunia.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya riset rumput laut untuk mendukung transformasi ekonomi pesisir. Menurutnya, fokus harus diarahkan untuk tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai pusat inovasi.
Stella Christie menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen rumput laut tropis, dengan mengambil alih sekitar 75 persen pasar global. Keberadaan riset yang kuat menjadi semakin mendesak agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal.
Nilai ekonomi rumput laut global mencapai 12 miliar Dolar AS per tahun, namun posisi Indonesia belum sebanding dengan potensi tersebut. 'Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah,' tegas Stella.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia
Pusat riset ini akan berfungsi sebagai titik kolaborasi nasional dan internasional, bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Beijing Genomics Institute telah berkomitmen untuk mendukung pendanaan sebesar Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, mencakup penyediaan peralatan dan peneliti.
Selain itu, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal pembangunan pusat riset ini. Fasilitas yang akan dibangun mencakup gedung penelitian, asrama untuk peneliti internasional, serta sarana pendukung lainnya.
Teluk Ekas memiliki kondisi ekologis yang ideal untuk penelitian rumput laut, dengan sistem teluk tropis yang terlindung dan arus serta sirkulasi air yang baik. Hal ini menjadikannya tempat yang sempurna untuk menjadi laboratorium hidup dalam riset produktivitas dan ketahanan iklim.
Kawasan ini juga berpotensi untuk mengembangkan berbagai jenis rumput laut tambahan seperti Caulerpa, Ulva, dan Halymenia, di samping Kappaphycus yang digunakan sebagai bahan baku karagenan. Dengan riset yang dilakukan, pusat ini diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas budidaya rumput laut.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: