Rupiah Menguat Tajam di Tengah Ketidakpastian Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan pada Rabu, 11 Februari 2026. Penguatan ini terjadi di tengah menyusutnya sentimen positif yang menyelimuti dolar menjelang pengumuman data ketenagakerjaan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melesat 43 poin atau 0,26% ke level Rp 16.768 per dolar AS, sementara indeks dolar tercatat stabil di angka 96,79.
Rupiah mencatat penguatan setelah penutupan perdagangan sebelumnya yang melemah 7 poin di level Rp 16.812. Pada Rabu, pergerakan mata uang di pasar spot exchange menunjukkan adanya optimisme di kalangan investor.
Data dari TradingView mengungkapkan bahwa mata uang Asia, termasuk rupiah, bergerak dengan konsolidasi terhadap dolar AS pada sesi perdagangan pagi. Investor kini menantikan peluncuran laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls yang dijadwalkan hari ini.
Beberapa analis mengakui bahwa tren laporan ketenagakerjaan yang berada di bawah konsensus dapat memengaruhi pergerakan rupiah lebih lanjut.
Seiring dengan itu, sentimen pasar menunjukkan bahwa pelaku bisnis mulai beradaptasi terhadap kemungkinan pengaruh data ketenagakerjaan terhadap nilai tukar.
Carol Kong dari CBA dalam laporan risetnya menyatakan bahwa 'kami memperkirakan tren data ketenagakerjaan yang berada di bawah konsensus akan berlanjut dan menekan dolar AS'. Penurunan ini diyakini akan berkaitan dengan meredanya tekanan inflasi.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia
Penurunan tekanan inflasi berpotensi mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dua kali lagi tahun ini, ditandai oleh ketidakpastian di pasar finansial global.
Banyak investor beralih kepada aset yang lebih stabil, seperti rupiah, menjadikan ekonomi Indonesia terlihat lebih menarik di mata investor luar negeri.
Penguatan nilai tukar rupiah juga diikuti dengan stabilitas di mata uang Asia lainnya, dengan USD/JPY yang relatif tidak berubah di level 154,36 dan USD/KRW stabil di angka 1.457,59.
Dengan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis, para ekonom dan analis menunjukkan kehati-hatian dalam merespons pergerakan rupiah dan dolar. Banyak yang meramalkan penguatan rupiah dapat berlanjut jika data ketenagakerjaan memenuhi atau melebihi ekspektasi pasar.
Namun, potensi risiko tetap membayangi, terutama hubungan antara data ekonomi AS dan dampaknya terhadap keputusan Bank Sentral AS. Sejumlah pengamat pasar juga memperingatkan akan adanya volatilitas di pasar keuangan yang bisa memengaruhi nilai tukar dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: