BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 21:20 WIB

Musik dan Kecemasan: Menggali Hubungan yang Menyentuh Emosi

Musik dan Kecemasan: Menggali Hubungan yang Menyentuh EmosiMusik dan Kecemasan: Menggali Hubungan yang Menyentuh Emosi

Belakangan ini, publik ramai membahas kasus seorang wanita yang mengaku mengalami serangan kecemasan saat mendengar lagu tertentu di tempat umum.

Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China

Fenomena ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan antara musik dan kesehatan mental, serta bagaimana lagu dapat menjadi pemicu trauma emosional.

Mengapa Lagu Bisa Memicu Kecemasan?

Musik memiliki kemampuan unik untuk memicu kecemasan, karena otak menyimpan memori tidak hanya sebagai informasi, tetapi juga sebagai emosi. Amigdala, bagian otak yang mendeteksi ancaman, dapat bereaksi ketika mendengar musik yang mengingatkan pada pengalaman traumatis.

Otak akan mengaktifkan respons 'fight-or-flight', membuat tubuh bereaksi seolah bahaya datang kembali. Penelitian menunjukkan individu dengan riwayat trauma atau PTSD sangat rentan terhadap rangsangan audio, yang dapat menyebabkan gejala kecemasan seperti jantung berdebar dan napas pendek.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology menyarankan teknik grounding, seperti berfokus pada pernapasan, dapat membantu meredakan kecemasan yang disebabkan oleh pemicu. Setiap orang mungkin memiliki pemicu yang berbeda, menunjukkan reaksi ini adalah respons biologis yang nyata.

Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Peran Lingkungan Terdekat dalam Memperparah Trauma

Lingkungan sekitar dapat memengaruhi proses pemulihan trauma secara signifikan. Respons dari keluarga dan teman dapat menentukan apakah seseorang merasa lebih aman atau malah semakin tertekan.

Kurangnya dukungan emosional dapat memperburuk kondisi yang dinamakan secondary trauma. Penelitian dari Journal of Anxiety Disorders menunjukkan bahwa penyintas yang tidak mendapat validasi dari orang terdekat cenderung mengalami kecemasan yang lebih berat.

Dukungan yang memadai sangat penting dalam menciptakan rasa aman, sehingga penyintas bisa pulih secara efektif. Menghormati batasan dan menghindari pemicu berulang adalah langkah penting bagi mereka yang sedang dalam proses pemulihan.

Kapan Meminta Bantuan Profesional Diperlukan?

Tidak semua serangan kecemasan yang dipicu musik memerlukan intervensi medis, tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan perlunya bantuan profesional. Gejala yang berulang atau semakin parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan indikasi yang penting.

Panduan dari Journal of Anxiety Disorders menyarankan untuk mencari bantuan ketika serangan cemas disertai gejala fisik seperti sesak napas atau jantung berdebar. Terapi, seperti terapi kognitif perilaku (CBT), telah terbukti efektif dalam mengenali pemicu dan mengurangi respons stres.

Situasi ini penting untuk diperhatikan, terutama di tengah viralnya cerita di media sosial yang bisa menambah beratnya beban psikologis bagi penyintas. Dengan memahami sensitivitas kondisi mental, kita dapat memberikan dukungan yang lebih empatik.

Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Musik dan Kecemasan: Menggali Hubungan yang Menyentuh Emosi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!