Inovasi Baterai Sodium: Solusi Baru untuk Kendaraan Listrik di Indonesia
Industri otomotif Indonesia kini melirik baterai berbasis sodium sebagai alternatif penyimpanan energi untuk kendaraan listrik.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan keterbatasan bahan baku lithium yang kian meningkat.
Salah satu pemain utama dalam pengembangan ini adalah PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Eko Maryanto, Head of Business Development DRMA, mengatakan bahwa baterai sodium memiliki potensi sebagai teknologi masa depan, terutama untuk menggantikan aki konvensional berbasis timbal.
Ia juga menyoroti bahwa "Posisinya memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibanding lead acid. Untuk aki, sebenarnya sodium ini yang paling cocok," ungkapnya saat konferensi di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Namun, tantangan tetap ada karena pengembangan baterai sodium masih terhambat oleh biaya dan kesiapan teknologi yang dibutuhkan. Meskipun potensinya menjanjikan, kondisi pasar saat ini menjadi penghalang bagi penerimaan produk ini.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Eko Maryanto menjelaskan bahwa biaya yang tinggi dan kapasitas energi yang lebih rendah menjadi masalah utama dalam pengembangan baterai sodium. Ia menggarisbawahi, "Sekarang teknologinya masih mahal. Energinya juga lebih rendah dibanding LFP, tapi harganya justru masih lebih tinggi."
Biaya ini menjadi faktor penting yang membuat produk berbasis sodium sulit untuk diterima secara luas. "Kalau melihat harga sekarang, memang belum bisa diterima," tandasnya.
Saat ini, industri baterai nasional masih didominasi oleh teknologi lithium, khususnya lithium iron phosphate (LFP), yang memiliki rantai pasokan lebih stabil dan matang.
Baterai sodium-ion menjadi alternatif yang menarik seiring meningkatnya harga dan keterbatasan pasokan lithium. Teknologi ini menggunakan natrium, yang lebih melimpah dan tidak terikat pada mineral langka.
Menurut laporan Gimozmochina, baterai sodium-ion lebih stabil secara kimia dan memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk digunakan.
Meskipun belum mampu menggeser dominasi lithium-ion, baterai sodium menunjukkan hasil positif dalam pengujian. Produsen baterai asal China, CATL, telah mulai menguji teknologi ini untuk mobil penumpang.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: