Mengapa Orang Cerdas Rentan terhadap Penipuan Online?
Phishing merupakan salah satu penipuan online yang perlu diwaspadai semua orang. Bahkan individu dengan kecerdasan tinggi pun dapat terjebak dalam praktik yang merugikan ini.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Fenomena ini menunjukkan bahwa kepintaran intelektual tidak selalu bisa melindungi seseorang dari serangan digital. Mari kita bahas lebih dalam mengenai penyebab di balik hal ini.
Saat ini, teknik phishing semakin canggih dan sulit dideteksi. Penyerang kini menggunakan berbagai platform seperti email, pesan teks, dan media sosial untuk menyamarkan diri sebagai entitas yang tepercaya.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 97% orang gagal mengenali tautan phishing yang canggih. Hal ini menjadi bukti bahwa tidak peduli seberapa cerdas atau berpengalamannya seseorang, mereka tetap bisa terjebak.
Contohnya, email yang terlihat resmi dari bank dapat sangat meyakinkan. Dengan desain yang mirip dan penggunaan istilah teknis, penyerang dapat membingungkan penerima untuk mendapatkan informasi sensitif.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Bahkan orang pintar tidak terlepas dari faktor psikologis yang mempengaruhi pengambilan keputusan mereka. Rasa ingin tahu dan ketakutan kehilangan sesuatu seringkali mendorong mereka menuju keputusan yang tidak bijak.
Banyak penipuan phishing menggunakan teknik manipulasi untuk menciptakan rasa urgensi. Misalnya, pesan yang menyatakan bahwa akun pengguna akan dibekukan jika tidak segera ditindaklanjuti dapat membuat mereka terburu-buru.
Dalam kondisi (yang) demikian, otak bisa mengakibatkan pengabaian logika. Akibatnya, bahkan individu yang paling cermat sekalipun dapat terpancing.
Faktanya, banyak orang masih kesulitan membedakan mana yang aman dan yang tidak dalam konteks digital. Pendidikan formal umumnya tidak mengakomodasi materi tentang keamanan siber yang terkini.
Beberapa individu menganggap bahwa pengalaman teknologi mereka sudah mencukupi, tetapi tidak menyadari taktik terbaru yang digunakan oleh penyerang. Hal ini menciptakan celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Sebagai contoh, banyak orang yang masih menggunakan password yang lemah atau satu password untuk banyak akun, dan ini dapat mempercepat risiko mereka menjadi korban phishing.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: