Tragedi Siswa SD di NTT: Gubernur Menyesalkan Kegagalan Pemerintah
Insiden tragis menimpa seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS, yang mengakhiri hidupnya di usia 10 tahun. Kejadian ini diduga terkait dengan ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti alat tulis sekolah.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru, Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, mengakui bahwa pemerintah telah gagal dalam menjalankan tanggung jawab terhadap masyarakat dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem sosial yang ada.
Melki Laka Lena menyatakan bahwa insiden tersebut mencerminkan kegagalan berbagai pranata sosial. "Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi pranata sosial kita berarti gagal urus model beginian," ujarnya saat acara peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa di Kupang.
Dia juga menekankan perlunya melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kesalahan yang terjadi dalam penanganan masalah ini. "Saya minta kita semua hadir di tempat ini, para pejabat-pejabat daerah, termasuk diri saya sendiri kayak gini cukup terakhir sudah," tambahnya.
Melki menyatakan bahwa semua pihak harus siap bertanggung jawab dan ditindak jika ditemukan kesalahan. Ini menunjukkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan respons terhadap masalah sosial.
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Kasus tersebut melibatkan YBS, siswa kelas IV SD, yang diduga mengambil keputusan fatal setelah gagal mendapat dukungan finansial untuk membeli alat tulis. YBS meminta uang sebesar Rp10.000 kepada ibunya, tetapi tidak mendapatkan respon positif.
Ibu YBS, seorang petani dan buruh serabutan, mengaku tidak mampu membantunya. Hal ini menegaskan permasalahan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga di daerah tersebut.
Fakta bahwa seorang anak merasa terdesak hingga mengambil langkah ekstrem menunjukkan ketidakberdayaan masyarakat yang seringkali tidak mendapatkan akses dasar yang memadai.
Melki Laka Lena mengungkapkan rasa malunya sebagai gubernur atas kejadian yang menyedihkan ini. "Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena model begini," ungkapnya.
Dia menekankan perlunya perubahan nyata dalam pengelolaan bantuan sosial dan pelayanan publik agar tragedi serupa tidak terulang. Sumber daya yang dialokasikan seharusnya tidak berujung pada kehilangan nyawa orang-orang miskin.
Melki berkomitmen untuk mencari tahu sumber masalah ini dan siap dituntut jika terbukti ada kesalahan dalam pengelolaan. "Kalaupun saya salah, saya siap dituntut, kesalahan itu ada dimana, siap dia dituntut," tegasnya.
Baca juga: Manchester United dan Manchester City Mengincar Kiper Baru Menjelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: