Kematian Tragis Anak SD di NTT: Sebuah Panggilan untuk Reformasi Pendidikan
Satu peristiwa memilukan terjadi di Jerebuu, Nusa Tenggara Timur, ketika seorang siswa kelas IV SD ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Peristiwa ini menjadi seruan jelas bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih melindungi anak-anak dari berbagai masalah yang mereka hadapi.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa anak berusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dari lingkungan mereka.
Ia menyatakan bahwa masalah seperti akses buku dan alat belajar seharusnya tidak membuat anak merasa putus asa.
Kasus ini mengungkapkan pentingnya untuk mengoreksi sistem pendidikan saat ini agar tidak ada anak yang terabaikan.
Pendidikan dasar harus gratis dan inklusif, sehingga anak-anak dari keluarga miskin dapat merasakan hak mereka dalam pendidikan.
Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan dari YBR (10) yang menunjukkan kekecewaannya kepada ibunya.
Baca juga: Calvin Verdonk Hampir Bergabung dengan Lille, Klub Terkenal Prancis yang Penuh Talenta
Dalam surat tersebut, ia menyebut ibunya sebagai 'pelit' dan mengungkapkan perasaan sedih serta harapan agar ibunya tidak menangisinya.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa, menambah kedalaman emosional terhadap tragedi ini.
Belum ada pemastian mengenai alasan kekecewaan YBR, meskipun kabar menyebut ia kecewa karena tidak dibelikan buku tulis.
Ipda Benediktus R Pissort dari Polres Ngada mengonfirmasi penemuan surat, menjelaskan bahwa penyelidikan masih berlanjut.
Respons dari masyarakat dan pihak berwenang sangat dibutuhkan agar tragedi serupa tidak terjadi lagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: