OpenAI Hadapi Krisis Keuangan, CEO Ambil Langkah Ekstrim
OpenAI berpotensi mengalami kesulitan finansial serius dalam waktu 18 bulan ke depan akibat pengeluaran yang membengkak. Rencana dana yang diperlukan untuk infrastruktur pusat data mencapai lebih dari US$1 triliun.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
CEO OpenAI, Sam Altman, telah menerapkan kebijakan baru untuk meningkatkan jumlah pengguna ChatGPT dan menekan pengeluaran, salah satunya dengan memperlambat perekrutan karyawan baru.
OpenAI tengah menghadapi potensi kehabisan dana dalam waktu 18 bulan. Biaya tinggi untuk membangun infrastruktur pusat data menjadi penyebab utama masalah ini.
Dengan anggaran mencapai lebih dari US$1 triliun (Rp 16.719 triliun), para pakar mengatakan bahwa pendapatan perusahaan saat ini jauh tertinggal dari pengeluaran.
Sementara itu, pesaing di sektor AI semakin agresif dalam merebut pasar. Untuk mengatasi situasi ini, Sam Altman mengeluarkan memo 'kode merah' kepada karyawan.
Dalam memo tersebut, Altman meminta karyawannya untuk meningkatkan fokus pada pengembangan ChatGPT dan memperlambat laju perekrutan.
OpenAI mempertimbangkan untuk memasukkan iklan ke dalam platform ChatGPT sebagai solusi untuk meningkatkan pendapatan. Langkah ini muncul meski sebelumnya Altman mengisyaratkan bahwa iklan bukanlah opsi utama.
Baca juga: Kunto Aji Menyuarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Harapan Masyarakat
Di bulan Januari, perusahaan mengumumkan rencana untuk menambahkan iklan, yang terpaksa dipercepat dari rencana awal yang akan diterapkan pada tahun 2024.
Analis mencatat bahwa langkah ini diambil setelah OpenAI mengalami kerugian miliaran dolar setiap kuartal. Dalam konteks ini, Altman menekankan pentingnya perubahan untuk menyelamatkan perusahaan.
Menurut laporan dari Business Insider, perlunya strategi baru menjadi keharusan di tengah tantangan keuangan yang dialami OpenAI.
Pengurangan perekrutan karyawan baru menjadi salah satu fokus utama dari strategi OpenAI. Altman berharap tren ini bisa diikuti oleh perusahaan lain di industri teknologi.
Dalam pertemuan internal, ia mengingatkan bahwa membuka lowongan secara agresif dapat berpotensi berbahaya. 'Menurut saya, yang sebaiknya tidak kita lakukan adalah merekrut secara agresif, lalu menyadari AI bisa melakukan banyak hal dan kita butuh sedikit orang,' ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: