Tantangan Besar Hino Motors di Indonesia Menyusul Peningkatan Impor Truk China
Tahun 2025 diperkirakan bakal menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Hino Motors di Indonesia akibat lonjakan truk impor dari China. Penurunan produksi yang drastis diprediksi akan menghantam daya saing perusahaan ini di pasar kendaraan komersial.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia, Harianto Sariyan, mengungkapkan bahwa saat ini pabrik di Purwakarta hanya beroperasi pada 35 hingga 45 persen kapasitas produksi, dengan proyeksi sisa kapasitas mencapai 25 persen tahun depan.
Hino Motors tidak bisa mengabaikan dampak dari meningkatnya jumlah truk impor dari China. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa produksi Hino pada tahun 2025 diperkirakan akan turun sebesar 22,6 persen menjadi 18.450 unit.
Hal ini terlihat jelas dengan proyeksi wholesales Hino pada 2024 yang mencapai 24.158 unit, namun akan mengalami penurunan drastis di tahun mendatang. Ini menunjukkan adanya tantangan serius dalam permintaan dan daya saing produk Hino di pasar.
Harianto Sariyan juga menekankan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun tersulit bagi perusahaan. "2025 tahun paling suram buat kami, sisa sekitar 25 persen. Karena tahun lalu banyak truk China masuk," ungkapnya di fasilitas produksi pada 21 Januari 2026.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Hino telah melakukan investasi yang substansial untuk membangun pabrik di Indonesia dengan luas area 296.000 m² dan bangunan lebih dari 169.000 m². Total nilai investasi yang dikeluarkan mencapai US$112,5 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.
Pabrik ini memfokuskan produksi tidak hanya pada truk, tetapi juga bus, dan disokong oleh 1.548 tenaga kerja. Dengan pernyataan, "Kami sudah memiliki sertifikasi TKDN untuk 31 kendaraan niaga (bus dan truk) dengan persentase 44,35 persen hingga 57,26 persen," Harianto menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung industri otomotif nasional.
Sektor karoseri lokal turut merasakan dampak buruk dari serbuan truk China. Kendaraan impor ini hadir dalam kondisi siap pakai, berbeda dengan produk lokal yang umumnya membutuhkan proses tambahan dari produsen karoseri.
Harianto menyoroti bahwa hal ini sangat mempengaruhi asosiasi karoseri. "Asosiasi karoseri sangat berat, karena kalau dari kami itu keluarnya (produk) lari ke karoseri. Kalau truk China itu (sudah termasuk) bodi jadu tinggal pakai," katanya.
Akibatnya, banyak pekerja di sektor karoseri terancam kehilangan pekerjaan, mengingat penurunan permintaan terhadap produk kendaraan niaga buatan lokal.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: