BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Selasa, 20 JANUARI 2026 • 17:55 WIB

Mengurai Fenomena Rasa Takut Ketinggalan dalam Era Digital

Mengurai Fenomena Rasa Takut Ketinggalan dalam Era DigitalMengurai Fenomena Rasa Takut Ketinggalan dalam Era Digital

Fenomena takut ketinggalan, atau FOMO (Fear of Missing Out), semakin mendominasi interaksi sosial di Indonesia. Banyak individu merasa terjebak dalam tekanan untuk selalu mengikuti tren dan kegiatan yang sedang hits di media sosial.

Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Media sosial berperan besar dalam menciptakan ketidakpuasan ini. Gambar dan video yang diunggah oleh teman sering membuat orang merasa kurang berpartisipasi dalam kehidupan sosial mereka.

Dampak Media Sosial terhadap Persepsi Sosial

Media sosial seperti Instagram dan TikTok telah mengubah cara manusia berinteraksi. Dengan setiap postingan yang menarik, banyak yang merasa terpaksa berkompetisi untuk menjaga relevansi dalam lingkungannya.

Ketika melihat teman berlibur di tempat eksotis atau menghadiri pesta seru, muncul dorongan kuat untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Hal ini seringkali menyebabkan pemborosan waktu dan uang untuk terlihat sejalan dengan tren.

Penelitian terbaru menunjukkan individu yang aktif di media sosial cenderung merasa cemas dan rendah diri. 'Mereka merasa tidak bisa bersaing dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna,' kata Dr. Rina, seorang psikolog sosial.

Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat

Ketergantungan Emosional terhadap Pengakuan Sosial

Rasa percaya diri sering kali dipengaruhi oleh jumlah 'likes' atau komentar yang diterima. Fenomena ini menunjukkan ketergantungan emosional pada pengakuan sosial dari orang lain.

Banyak yang merasa tidak utuh jika unggahan mereka tidak mendapatkan respons positif. 'Mungkin kita perlu merenungkan seberapa pentingnya validasi dari orang lain,' ungkap Dr. Ahmad, seorang ahli kesehatan mental.

Hasil studi menunjukkan bahwa hubungan antar individu semakin superficial. Komunikasi tatap muka mulai terganti dengan interaksi digital yang lebih dangkal.

Mengatasi Ketakutan Ketinggalan

Penting bagi individu untuk menyadari dan mengatur ekspektasi terhadap media sosial. Mengurangi penggunaan platform tersebut dapat membantu meringankan kecemasan yang dirasakan.

Mencari hobi baru atau bergabung dengan komunitas lokal bisa menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kesehatan mental. 'Dengan lebih terlibat secara langsung, kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dalam interaksi,' jelas Dr. Ahmad.

Mengakui bahwa tidak semua momen perlu diabadikan di media sosial adalah langkah yang krusial. Hidup tidak hanya tentang apa yang kita tampilkan kepada orang lain, tetapi juga apa yang kita rasakan dalam momen tersebut.

Baca juga: Manchester United dan Manchester City Mengincar Kiper Baru Menjelang Penutupan Bursa Transfer

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Mengurai Fenomena Rasa Takut Ketinggalan dalam Era Digital

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!