Ketegangan Diplomatik AS dan Iran dalam Forum PBB
Pertikaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat membahas protes yang melanda Iran. Tuduhan saling menyerang menjadi sorotan utama, dengan AS menolak klaim dari Teheran tentang adanya konspirasi asing di balik unjuk rasa tersebut.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menekankan bahwa unjuk rasa rakyat Iran adalah cerminan nyata dari keinginan mereka untuk perubahan, bukan hasil dari campur tangan luar. Di sisi lain, Iran beri respons balik dengan menuduh AS melakukan distorsi fakta terkait situasi di negara tersebut.
Dewan Keamanan PBB kembali menjadi arena bagi AS dan Iran untuk bersuara mengenai unjuk rasa yang terjadi di Iran. Duta Besar AS, Mike Waltz, mengklaim bahwa anggapan Iran tentang keterlibatan asing dalam protes tersebut adalah tidak berdasar.
"Semua orang di dunia perlu mengetahui bahwa rezim tersebut lebih lemah dari sebelumnya, dan oleh karena itu, menyebarkan kebohongan ini karena kekuatan rakyat Iran di jalanan. Mereka takut. Mereka takut pada rakyat mereka sendiri," ungkap Waltz dalam rapat pada 15 Januari 2026.
Posisi AS terlihat jelas sebagai pendukung rakyat Iran yang berjuang untuk hak-haknya, dengan Waltz menegaskan, bahwa kekerasan dalam unjuk rasa adalah tanggung jawab Iran. Ini mengindikasikan bahwa AS berupaya untuk memberikan dukungan moral kepada rakyat Iran.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Iran memberikan respons tegas terhadap pernyataan yang dilontarkan oleh Waltz. Wakil Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menyebutkan bahwa semua tuduhan tersebut adalah 'kebohongan'.
"Namun, setiap tindakan agresi -- secara langsung atau tidak langsung -- akan ditanggapi dengan respons yang tegas, proporsional, dan sah," tegas Darzi, menekankan perlunya penghormatan terhadap kedaulatan negara dalam diskusi internasional.
Darzi juga memperingatkan negara-negara asing agar tidak campur tangan dalam urusan domestik Iran, serta mendesak agar mereka mematuhi hukum internasional saat menjalin interaksi.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, turut memberikan pandangan kritis terhadap inisiatif AS yang memanggil rapat Dewan Keamanan. Dalam pernyataannya, Nebenzia mencerminkan kekhawatiran tentang kemungkinan adanya upaya untuk mengintervensi urusan dalam negeri Iran.
"Kami menyaksikan suatu upaya untuk 'menyelesaikan masalah Iran dengan cara favoritnya: melalui serangan yang bertujuan untuk menggulingkan rezim yang tidak diinginkan'," jelas Nebenzia, menunjukkan ada keprihatinan mendalam di antara negara besar.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga memberikan peringatan agar semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memicu eskalasi lebih jauh. Seruan ini menunjukkan pentingnya dialog dan diplomasi dalam menghadapi ketegangan internasional yang semakin meningkat.
Baca juga: Google Respon Terkait Masalah Keamanan Gmail dan Aktivitas Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: