Pasar Kencan Online Bergeser ke Asia: Indonesia Menjadi Sorotan
Perusahaan-perusahaan kencan daring kini mengalihkan fokus mereka ke pasar Asia akibat stagnasi yang terjadi di Amerika Utara dan Eropa. Hal ini dipicu oleh fenomena 'swipe-right fatigue', yang membuat pengguna di Barat mulai jenuh dengan mekanisme pencarian pasangan secara online.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Di tengah ketidakpastian itu, Indonesia menunjukkan pertumbuhan pengguna yang signifikan, terutama di kalangan perempuan. Masyarakat kini lebih terbuka terhadap kencan daring, mencari pasangan di luar lingkungan kerja yang sebelumnya menjadi batasan.
Platform kencan online seperti Tinder dan Bumble tengah berjuang untuk mempertahankan jumlah pengguna di Barat. Data terbaru menunjukkan penurunan pengguna aktif Tinder hingga 10%, dengan jumlah menjadi 51 juta pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Bumble pun mengalami hal serupa dengan penurunan 5% dalam basis pengguna, yang kini berjumlah 20,8 juta. Pergeseran perhatian ke pasar Asia diharapkan dapat memberikan peluang bagi mereka untuk tetap tumbuh di tengah tantangan yang ada.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR
Indonesia kini menjadi salah satu negara dengan akselerasi pengguna aplikasi kencan online yang sangat signifikan. Berdasarkan data, negara-negara Asia, termasuk Indonesia, menduduki lima besar dalam pertumbuhan unduhan aplikasi kencan sepanjang tahun 2025.
Namun, meskipun pertumbuhan pengguna terlihat menjanjikan, pendapatan yang dihasilkan aplikasi ini masih tidak tampak signifikan. Hanya Jepang yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan di antara negara-negara Asia lainnya, menandakan tantangan yang dihadapi oleh pasar kencan daring di Indonesia.
Shn Juay, CEO Coffee Meets Bagel, mengungkapkan bahwa perempuan di Asia kini lebih aktif mencari pasangan melalui aplikasi kencan. "Perempuan tak lagi bergantung pada keluarga dan teman untuk memperkenalkan mereka ke jodoh masa depan," kata Juay.
Pergeseran ini memaksa aplikasi kencan online untuk beradaptasi dengan berbagai norma budaya yang unik di setiap negara. "Orang-orang di Asia cenderung lebih berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu mencari pasangan dalam jangka waktu lama," tambahnya.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: