Misteri yang Mengelilingi Makam Kaisar Pertama China: Mengapa Tidak Ada Penggalian?
Makam Kaisar Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin dan kaisar pertama China, masih terpendam di dalam tanah tanpa pernah diekskavasi. Para ilmuwan beralasan, potensi risiko merusak peninggalan berharga di dalamnya menjadi alasan utama.
Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz
Sejak kompleks Pasukan Terakota ditemukan pada tahun 1974, banyak perhatian tertuju kepada sisa-sisa tentara dari tanah liat ini, bukan kepada makam sang kaisar yang sarat misteri itu.
Qin Shi Huang adalah kaisar pertama China yang memerintah hingga kematiannya pada 210 SM. Dia terkenal karena membangun kompleks Pasukan Terakota yang terletak dekat dengan makamnya.
Kompleks itu terdiri dari lebih dari 8.000 patung tentara, 130 kereta, dan 520 kuda yang konon untuk mengawal penguasa itu di alam baka. Meskipun begitu, banyak artefak saat ini tetap berada di bawah tanah, belum tergali.
Keberadaan makam ini sebagai situs bersejarah sudah menarik perhatian banyak ilmuwan. Namun, rasa khawatir akan kerusakan artefak yang ada membuat penggalian makam menjadi hal yang sangat menantang.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa
Alasan utama yang membuat ilmuwan enggan untuk menggali makam adalah potensi kerusakan terhadap peninggalan sejarah yang dianggap sangat berharga. Contoh dari penggalian kota Troy yang berujung pada kehancuran menjadi pengingat yang nyata.
Belum lagi, hasil penelitian menunjukkan adanya kandungan merkuri yang 100 kali lebih tinggi dari batas normal di sekitar situs ini. Hal ini menimbulkan dugaan akan keberadaan sungai merkuri beracun yang dibuat oleh Qin untuk melindungi makamnya.
Sima Qin, seorang pakar sejarah, menekankan pentingnya artefak di dalam makam tersebut. Dia menulis, "Pengrajin diminta untuk membuat busur dan panah untuk menembak siapapun yang memasuki makam."
Diperkirakan bahwa makam ini berada sekitar 35 meter di bawah tanah, yang menjadikan ekskavasi semakin rumit dan kompleks. Penggalian membutuhkan sejumlah besar sumber daya manusia serta teknik yang sesuai.
China masih tergolong minim pengalaman dalam melakukan ekskavasi pada kedalaman yang ekstrem seperti itu. Tantangan ini membuat tindakan penggalian terasa berisiko.
Saat ini, para ilmuwan optimis bahwa dengan kemajuan teknologi di masa mendatang, memungkinkan penggalian dilakukan secara aman dan artefak di dalamnya tetap utuh.
Baca juga: Transfer Mengejutkan: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: