BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 02 JANUARI 2026 • 20:43 WIB

Ritual Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Menuai Pro dan Kontra

Ritual Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Menuai Pro dan KontraRitual Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Menuai Pro dan Kontra

Di Gunung Sanggabuana, Karawang, ada ritual unik pembuangan celana dalam yang dipercaya sebagai simbol pembuangan sial. Namun, kegiatan ini menarik perhatian karena dampaknya terhadap kelestarian lingkungan sekitar.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Kritikan Mengalir dari Komnas HAM dan DPR

Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan lokal, tetapi juga menimbulkan tantangan bagi ekosistem, mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Asal Usul Ritual

Ritual ini sudah ada sejak lama dan umumnya dilakukan pada malam Jum'at kliwon atau menjelang satu suro. Nace Permana, pegiat budaya lokal, menjelaskan bahwa tradisi ini berasal dari kepercayaan peziarah yang mandi di mata air gunung.

Nace menjelaskan, "Jauh sebelum saya lahir ritual itu sudah ada, dan itu dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai mitos buang sial dengan buang pakaian usai ziarah ke makom yang ada di Sanggabuana."

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia

Awalnya, peziarah membersihkan diri di tiga pancuran di puncak gunung sebelum membuang pakaian mereka. Praktik tersebut memiliki makna mendalam bagi mereka yang melakukannya.

Persepsi dan Praktik Saat Ini

Dalam perkembangannya, ritual ini bukan hanya dilakukan pada tanggal-tanggal tertentu, melainkan secara rutin dengan banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Nace mengungkapkan, "Dulu itu biasanya orang-orang tertentu dan tidak banyak, dan bukan hanya celana dalam dan kutang biasanya juga pakaian yang dia itu dibuang."

Kini peziarah berkumpul di empat mata air, termasuk Pancuran Emas dan Pancuran Kahuripan, serta sejumlah makam yang terkoneksi dengan kepercayaan lokal. Namun, praktik ini juga memunculkan masalah baru, yakni akumulasi sampah di area tersebut.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Di satu sisi, ritual ini memberikan dampak ekonomi positif bagi warga setempat, dengan dibukanya usaha kuliner dan layanan pemanduan. Nace menyatakan, "Ramainya peziarah yang datang juga sebenarnya membawa hal positif bagi ekonomi warga, jadi warung ramai yang jajan dan terkadang jadi pengantar atau guide ke pancuran dan dapat upah."

Namun, Pembina Sanggabuana Conservation Foundation, Bernarld T Wahyu, menunjukkan bahwa praktik ini telah berubah makna dan kini lebih berorientasi keuntungan, yang dapat berisiko bagi lingkungan. Bernarld mengatakan, "Ritual buang celana dalam dan kutang itu semakin menjadi-jadi bahkan kuncen-kuncen baru bermunculan dan mencari pengunjung yang akan ritual demi mendapatkan upah."

Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Ritual Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Menuai Pro dan Kontra

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!