Proyeksi Lonjakan Mobilitas Masyarakat pada Libur Nataru 2025-2026
Pemerintah memproyeksi adanya lonjakan mobilitas masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Diperkirakan, sekitar 119,5 juta orang berencana melakukan perjalanan selama periode tersebut.
Baca juga: Polisi Tangkap ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Angka ini menunjukkan peningkatan 2,71 persen dibanding tahun lalu, dengan dampak signifikan terhadap arus lalu lintas terutama di Pulau Bali.
Menhub Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat akan menjadi sumber utama pergerakan penumpang. Diperkirakan, Jawa Tengah akan menjadi tujuan utama dengan 20,23 juta orang.
Pemerintah juga memperhatikan wilayah-wilayah di luar 10 besar survei, seperti Maluku, Papua, dan Kalimantan Barat, yang juga merayakan Natal. Berbagai sarana dan prasarana transportasi telah disiapkan untuk mendukung kelancaran perjalanan.
Sebanyak 31.433 bus, 711 kapal, 2.670 kereta api, 368 pesawat, dan 253 kapal penyeberangan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang meningkat ini.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, menyebutkan bahwa arus kendaraan di Pulau Bali diperkirakan meningkat 10 persen menjelang akhir tahun 2025. Hal ini termasuk kendaraan barang dan penumpang yang menunjukkan peningkatan signifikan.
Ia menjelaskan bahwa angkutan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dan pelabuhan juga akan terpengaruh. Rapat koordinasi dengan Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) telah dilaksanakan untuk mengatur arus trafik selama libur Nataru.
Puncak arus kendaraan diprediksi akan terjadi pada 24 Desember 2025, baik dari pelabuhan maupun bandara, menunjukkan pentingnya persiapan untuk kenyamanan dan keselamatan pengguna transportasi.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu transportasi, pihak kepolisian telah memetakan empat klaster utama untuk pengelolaan jalan tol dan arteri. Rencana kedaruratan juga telah disiapkan untuk bencana alam seperti banjir atau longsor.
Keamanan di pelabuhan-pelabuhan seperti Gilimanuk-Ketapang dan Merak dijamin, dengan skenario penanganan bila cuaca tidak mendukung penyeberangan. Ini penting untuk menangani penumpukan penumpang dan kendaraan saat kondisi cuaca buruk.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak dari cuaca yang tidak terduga, dan pengaturan yang matang menjadi kunci kelancaran pergerakan masyarakat selama liburan.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru, Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: