Ancaman Gempa Megathrust di Indonesia: Wawasan dari Peneliti
Perhatian dunia ilmiah saat ini tertuju pada risiko gempa megathrust yang mengancam Indonesia. Penjelasan dari Prof. Kosuke Heki dari Universitas Hokkaido menawarkan wawasan penting terkait ancaman dan langkah mitigasi yang diperlukan.
Baca juga: Mahasiswa Bertemu Pimpinan DPR: Tuntut Investigasi dan Transparansi Tunjangan
Heki menyoroti pentingnya pemantauan jangka panjang serta pemahaman yang lebih dalam tentang posisi seismik di daerah rawan gempa di Indonesia untuk membantu mitigasi bencana.
Komunitas ilmiah global semakin memperhatikan potensi gempa megathrust di Indonesia. Menurut data terbaru dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia, terdapat 14 zona megathrust yang berpotensi menyebabkan gempa besar.
Zona-zona tersebut mencakup Megathrust Jawa, Aceh-Andaman, dan Nias-Simelue, yang diprediksi dapat memicu gempa dengan magnitudo tinggi. Pemahaman tentang perilaku dan siklus gempa menjadi semakin krusial dalam usaha mitigasi bencana.
Heki menjelaskan bahwa gempa berkekuatan 8 dapat terjadi dalam interval yang lebih pendek, antara 50 hingga 100 tahun. 'Kami memahami bahwa potensi gempa besar tetap menjadi perhatian serius, meskipun waktu pastinya sulit diprediksi,' ujarnya.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Teknologi kini menjadi kunci dalam mendeteksi pergerakan kerak bumi yang dapat memicu bencana. Menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan deformasi dapat dilakukan secara jangka panjang.
Heki menekankan, 'Dengan kombinasi data GNSS di darat dan teknologi geodesi dasar laut, kita dapat mulai memetakan akumulasi tegangan.' Hal ini sangat penting untuk memprediksi kemungkinan gempa besar di masa depan.
Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat memberikan informasi dini mengenai pergeseran geologi, sehingga membantu upaya mitigasi sebelum bencana terjadi.
Salah satu fenomena yang dapat menjadi indikator menjelang terjadinya gempa besar adalah slow slip event (SSE). Menurut Heki, 'Meskipun gerakannya kecil, SSE dapat memberi petunjuk penting sebelum terjadinya gempa besar.'
Fenomena ini telah teramati di jalur Nankai dan memiliki potensi untuk memicu gempa besar. Observasi terhadap SSE dapat berkontribusi pada upaya mitigasi bencana yang lebih efektif.
Survei terbaru menunjukkan bahwa upaya pengumpulan data tentang pergerakan geologi perlu ditingkatkan untuk adaptasi terhadap ancaman gempa di Indonesia.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: