Kisah Tragis Mahasiswa Unud dan Bullying yang Berujung Bunuh Diri
Kasus bunuh diri seorang mahasiswa Universitas Udayana, berinisial TAS, membuka tabir sejumlah fakta mengejutkan yang menguak permasalahan serius di kalangan mahasiswa. Meskipun telah tiada, yang bersangkutan tetap mengalami bullying yang sangat tidak beretika dari teman-teman seangkatannya.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Berdasarkan penyelidikan, TAS mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai empat Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada 15 Oktober 2025, bukan dari lantai dua seperti yang beredar sebelumnya.
Dari informasi yang dihimpun oleh pihak kepolisian, kejadian tersebut diungkapkan oleh saksi mata, mahasiswa berinisial NKGA, yang menyaksikan TAS melompat dari gedung. Kompol I Ketut Sukadi menjelaskan, "Kurang lebih 15 menit kemudian datang korban dari arah pintu lift, dengan posisi menggendong tas ransel dan memakai baju putih."
Usai melompat, TAS segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah, namun sayangnya, nyawanya tidak tertolong akibat pendarahan yang parah.
Kejadian ini menunjukkan betapa rumitnya masalah kesehatan mental yang dihadapi mahasiswa, dan menjalankan terapi kesehatan mental sangatlah penting sebelum kondisi semakin memburuk.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Wakil Dekan III FISIP Unud, I Made Anom Wiranata, mengungkapkan bahwa TAS telah mengalami masalah kesehatan mental sejak di Sekolah Menengah Pertama. Namun, meskipun TAS mendapatkan penanganan psikologi, terapi tersebut dihentikan saat memasuki perguruan tinggi.
Anom menambahkan, "Lalu sampai dengan SMA, yang bersangkutan menolak untuk mendapat terapi lanjutan ketika masuk ke Udayana." Hal ini menunjukkan bahwa dukungan dalam pengelolaan kesehatan mental sangat penting di lingkungan kampus.
Selain itu, TAS juga menjadi korban bullying dari teman-teman seangkatan yang mengejek fisiknya. Tindakan ini berkontribusi signifikan terhadap kondisi mentalnya yang kian memburuk.
Universitas Udayana mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi terhadap para pelaku bullying. Sanksi tersebut berupa pengurangan nilai soft skill selama satu semester, sebagai respons atas tindakan etika yang tidak pantas.
Anom menjelaskan, "Saya akan menulis surat kepada yang bersangkutan agar diberikan sanksi pengurangan nilai soft skill dan itu hanya terbatas pada satu semester." Tindakan ini diharapkan dapat mendorong perubahan sikap di kalangan mahasiswa.
Universitas juga mendorong pelaku bullying untuk mengajukan permohonan maaf secara formal kepada korban untuk membangun kembali suasana yang sehat dan menghindari potensi terulangnya kejadian serupa.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: