Penemuan Kerangka Manusia Purba di Gua Harimau: Indikasi Penyakit Malaria dan Talasemia
Sebuah penelitian arkeologi di Gua Harimau, Sumatera Selatan, mengungkap temuan menarik mengenai kerangka manusia purba yang menunjukkan bukti penyakit malaria dan talasemia. Ini merupakan penemuan pertama yang teridentifikasi pada kerangka dari periode logam.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Temuan ini membuka bab baru dalam studi tentang hubungan antara penyakit dan evolusi manusia. Hal ini menjadi penting untuk memahami dampak genetik dan kesehatan manusia purba di masa lalu.
Truman Simanjuntak, Pendiri dan Ketua Pusat Studi Prasejarah dan Austronesia (CPAS), menjelaskan bahwa citra rontgen menunjukkan penebalan dan porositas pada tulang yang dapat didiagnosis dengan talasemia. Analisis ini mengungkap kerangka tersebut memiliki lesi tulang yang signifikan, menandakan adanya kelainan berkaitan dengan penyakit genetik tersebut.
Penemuan ini menunjukkan kekayaan informasi yang dapat diperoleh dari analisis kerangka purba. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya teknologi modern dalam memberikan wawasan baru terhadap kondisi kesehatan manusia purba.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Talasemia dikenal luas sebagai kelainan darah yang disebabkan oleh mutasi genetik yang mengganggu produksi hemoglobin, protein penting dalam sel darah merah. Penyakit ini bisa memiliki gejala yang bervariasi, dari anemia ringan hingga talasemia mayor, yang sering memerlukan transfusi darah seumur hidup.
Pemahaman lebih lanjut mengenai talasemia dapat membantu menjelaskan alasan tingginya prevalensi penyakit ini di wilayah tertentu, serta implikasi bagi kesehatan masyarakat saat ini.
Mutasi gen talasemia, meskipun berbahaya, ternyata memberikan keuntungan evolusi. Individu yang memiliki satu salinan gen ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap malaria berat. Hal ini menunjukkan bahwa adapitasi genetik dapat dipahami dalam konteks sejarah dan epidemiologi.
J. B. S. Haldane menyatakan pada 1949 bahwa tingginya prevalensi talasemia di daerah endemik malaria bukanlah kebetulan. Ini merupakan dampak dari seleksi alam yang membentuk pola penyakit di suatu wilayah.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: