Muhammad Ali: Lebih dari Sekadar Juara Tinju
Muhammad Ali, mantan juara dunia tinju kelas berat, dikenal sebagai salah satu atlet terbesar dalam sejarah olahraga.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Kehidupan dan kariernya adalah simbol perubahan sosial yang mendalam, menginspirasi generasi untuk memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia.
Muhammad Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. pada 17 Januari 1942, di Louisville, Kentucky.
Ali mulai berlatih tinju pada usia 12 tahun setelah mengalami pencurian sepeda, dan bertekad untuk mengalahkan pencuri tersebut.
Kecemerlangan Ali di ring dimulai saat ia memenangkan medali emas di Olimpiade Roma 1960, menjadi batu loncatan bagi karir profesionalnya.
Pada tahun 1964, di usia 22 tahun, Ali merebut gelar juara dunia tinju kelas berat setelah mengalahkan Sonny Liston, mengawali perjalanan legendarisnya di dunia tinju.
Ali juga dikenal vokal dalam berbagai isu sosial, menolak untuk berperang dalam Perang Vietnam berdasarkan keyakinan agamanya.
Baca juga: Polisi Tangkap ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Dengan jelas, Ali menyatakan, 'Saya tidak memiliki masalah dengan para Viet Cong; mereka tidak pernah memanggil saya nigger'.
Keberaniannya untuk berbicara menentang perang menjadikannya figur kontroversial dan simbol perjuangan hak asasi manusia.
Ali menginspirasi banyak orang untuk berjuang demi keadilan, meski harus menghadapi konsekuensi dari keyakinannya.
Ali meninggalkan warisan yang mendalam, tidak hanya dalam dunia tinju tetapi juga dalam perubahan sosial.
Ia mengajarkan pentingnya keberanian dan integritas dalam menghadapi tantangan, pensiun pada tahun 1981 dengan catatan 56 kemenangan, 5 kekalahan, dan 37 kemenangan dengan knockout.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: