Bullying atau perundungan masih sering dianggap sebagai bagian dari candaan, proses pertemanan, bahkan cara seseorang menjadi lebih kuat. Padahal, tindakan yang dilakukan berulang untuk merendahkan, mengintimidasi, mengucilkan, atau menyakiti orang lain dapat meninggalkan dampak yang panjang.
Perundungan tidak selalu berbentuk pukulan atau kekerasan fisik. Mengejek penampilan, menyebarkan rumor, mempermalukan seseorang di grup percakapan, sengaja mengucilkan teman, hingga mengunggah konten yang merendahkan orang lain juga termasuk bullying.
Dampaknya pun tidak berhenti ketika ejekan selesai. Dalam banyak kasus, korban membawa rasa takut, malu, dan tidak aman jauh setelah peristiwa tersebut berlalu.
Yang jarang dibicarakan, pelaku bullying juga dapat mengalami dampak serius. Jika perilakunya terus dibiarkan, ia bisa tumbuh dengan cara berhubungan yang tidak sehat dan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar.
Korban Bisa Terlihat Baik-baik Saja
Tidak semua korban bullying langsung menangis atau menceritakan pengalamannya. Sebagian justru memilih diam karena takut dianggap lemah, tidak dipercaya, atau khawatir perundungan akan semakin parah.
Ada pula korban yang tetap terlihat ceria di depan keluarga dan teman. Namun, ketika sendirian, ia mengalami kecemasan, sulit tidur, kehilangan semangat, atau terus mengingat perkataan yang menyakitkan.
Karena itu, perubahan kecil dalam perilaku tidak seharusnya diabaikan.
Korban mungkin mulai menghindari sekolah, tempat kerja, komunitas, atau kegiatan yang sebelumnya disukai. Ia juga dapat menjadi lebih tertutup, mudah marah, kehilangan barang tanpa penjelasan, atau tiba-tiba tidak ingin bertemu orang tertentu.
Membuat Korban Meragukan Dirinya Sendiri
Salah satu dampak bullying yang jarang terlihat adalah rusaknya cara korban memandang dirinya.
Ejekan yang terus diulang dapat membuat seseorang mulai mempercayai perkataan pelaku. Korban merasa dirinya tidak menarik, tidak pintar, tidak layak berteman, atau selalu menjadi sumber masalah.
Perasaan ini bisa bertahan hingga dewasa. Seseorang yang pernah dirundung mungkin kesulitan menerima pujian, takut tampil di depan umum, atau terus mencari kesalahan dalam dirinya meski berada di lingkungan yang aman.
Dalam hubungan sosial, korban juga dapat menjadi terlalu takut ditolak sehingga memilih menjauh terlebih dahulu sebelum orang lain meninggalkannya.
Tubuh Ikut Merasakan Dampaknya
Bullying bukan hanya memengaruhi perasaan. Tekanan yang berlangsung terus-menerus juga dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik.
Korban bisa mengeluhkan sakit kepala, sakit perut, tubuh mudah lelah, jantung berdebar, atau sulit tidur. Pada anak dan remaja, keluhan tersebut terkadang muncul menjelang waktu sekolah atau ketika harus bertemu dengan lingkungan tempat perundungan terjadi.
Keluhan fisik seperti ini bukan berarti korban berpura-pura. Tubuh dapat bereaksi ketika seseorang terus berada dalam kondisi takut dan tertekan.
Prestasi Bisa Turun Bukan karena Malas
Korban bullying sering dianggap mendadak malas ketika nilai sekolah atau performa kerjanya menurun. Padahal, konsentrasi akan terganggu jika sebagian besar pikirannya digunakan untuk mengantisipasi ejekan, ancaman, atau perlakuan buruk berikutnya.
Ia mungkin kesulitan fokus, takut bertanya, enggan masuk kelas, atau tidak berani menyampaikan ide karena khawatir kembali dipermalukan.
Jika berlangsung lama, korban bisa kehilangan kesempatan berkembang bukan karena kurang mampu, tetapi karena tidak merasa aman untuk menunjukkan kemampuannya.
Korban Bisa Meniru Perilaku Pelaku
Dampak lain yang jarang disadari adalah munculnya siklus perundungan.
Seorang korban dapat melampiaskan rasa sakit kepada orang yang dianggap lebih lemah. Ia mungkin tidak melakukan perundungan di sekolah, tetapi bersikap kasar kepada adik, teman daring, atau orang lain di lingkungan berbeda.
Hal ini tidak membenarkan tindakannya. Namun, perilaku tersebut menunjukkan bahwa seseorang bisa berada dalam posisi sebagai korban sekaligus pelaku.
Karena itu, penanganan bullying tidak cukup hanya dengan menghukum. Penting pula memahami apa yang membuat perilaku tersebut muncul dan bagaimana menghentikan siklusnya.
Pelaku Juga Berisiko Membawa Masalah hingga Dewasa
Pelaku bullying tidak selalu merupakan anak yang percaya diri atau memiliki kehidupan sempurna. Sebagian mungkin meniru kekerasan yang dilihat di rumah, ingin mendapatkan pengakuan kelompok, merasa iri, atau tidak mampu mengelola emosi.
Jika tidak diarahkan, pelaku dapat menganggap intimidasi sebagai cara efektif untuk mendapatkan kendali.
Pola itu bisa terbawa ke hubungan pertemanan, pekerjaan, hingga rumah tangga. Pelaku mungkin sulit menerima penolakan, terbiasa merendahkan orang lain, atau menggunakan ancaman ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Memberikan konsekuensi tetap penting. Namun pelaku juga membutuhkan pembinaan agar memahami dampak tindakannya, belajar berempati, dan menemukan cara yang sehat untuk mengelola emosi.
Penonton yang Diam Juga Bisa Terdampak
Bullying tidak hanya melibatkan korban dan pelaku. Orang yang menyaksikan perundungan juga bisa merasa takut, bersalah, atau tidak aman.
Mereka mungkin khawatir akan menjadi sasaran berikutnya jika membantu korban. Sebagian memilih tertawa atau ikut mengejek agar tidak dikeluarkan dari kelompok.
Jika situasi seperti ini dibiarkan, lingkungan dapat terbiasa dengan kekerasan. Orang-orang mulai menganggap penghinaan sebagai hiburan dan memilih diam ketika melihat ketidakadilan.
Karena itu, saksi perlu mendapatkan ruang aman untuk melapor tanpa takut dibalas atau ikut menjadi korban.
Waspadai Perundungan di Dunia Digital
Cyberbullying dapat terasa lebih berat karena korban tidak selalu bisa menjauh dari pelaku. Ejekan dapat masuk melalui ponsel kapan saja, disebarkan kepada banyak orang, dan tersimpan dalam bentuk tangkapan layar.
Pelaku juga sering merasa lebih berani karena tidak melihat langsung reaksi korban.
Menghapus komentar belum tentu langsung menghilangkan dampak emosionalnya. Karena itu, bukti seperti pesan, unggahan, foto, dan rekaman percakapan sebaiknya disimpan sebelum akun pelaku diblokir atau dilaporkan.
Korban juga perlu didampingi agar tidak menghadapi masalah tersebut sendirian.
Apa yang Harus Dilakukan?
Saat seseorang bercerita menjadi korban bullying, hindari langsung mengatakan bahwa ia terlalu sensitif atau menyuruhnya melawan sendiri. Dengarkan tanpa menyalahkan dan tanyakan bantuan apa yang paling dibutuhkan.
Untuk kasus di sekolah, libatkan wali kelas, guru konseling, dan pihak sekolah. Di tempat kerja, laporan dapat disampaikan kepada atasan atau bagian sumber daya manusia. Jika terdapat ancaman, kekerasan fisik, pemerasan, atau penyebaran konten pribadi, pertimbangkan meminta bantuan pihak berwenang.
Korban yang mengalami kecemasan berkepanjangan, perubahan perilaku ekstrem, atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari juga sebaiknya memperoleh pendampingan dari tenaga profesional.
Bullying tidak menjadi ringan hanya karena dilakukan sambil tertawa. Sebuah kalimat yang dianggap candaan oleh pelaku dapat menjadi luka yang diingat korban selama bertahun-tahun.
Menghentikan perundungan bukan hanya tugas korban. Keluarga, teman, sekolah, tempat kerja, dan siapa pun yang menyaksikannya memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: