Tangkapan Layar Film Istimewa (Instagram)
Aktor senior Mathias Muchus mengaku mendapatkan pengalaman berbeda ketika memerankan sosok ayah dalam film terbaru berjudul Istimewa. Bukan persoalan teknis akting atau penempatan kamera yang paling membekas baginya, melainkan kedekatan emosional dengan anak-anak penyandang disabilitas yang menjadi pusat cerita film yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 September 2026 itu.
Dalam film persembahan Kairos Pictures itu, Mathias berperan sebagai Pak Mahendra, sosok ayah sekaligus tempat pulang bagi anak-anak yang tinggal di Rumah Istimewa.
Mathias mengatakan, biasanya ia memasuki sebuah produksi dengan mempelajari struktur cerita, dramatika, karakter, dan kebutuhan teknis lainnya. Namun proses dalam film Istimewa justru dimulai dari pendekatan yang jauh lebih personal.
“Biasanya saya mulai itu dengan masalah teknis, cerita, kerangka cerita, dramatik, dan lain sebagainya. Tapi ini kita mulai dengan satu nuansa emosional. Ini jarang saya temui,” ujar Mathias Muchus.
Menurutnya, hal pertama yang disentuh dalam proses film tersebut bukan kemampuan seorang aktor, melainkan kedalaman mereka sebagai manusia.
“Jadi saya sebagai aktor, begitu juga Agus berkali-kali, awal yang disentuh itu adalah dalamnya kita sebagai manusia. Itu yang paling berkesan buat saya,” lanjutnya.
Para Pemain Film 'Istimewa' (Istimewa)
Mathias mengaku mengalami perubahan cara pandang setelah menjalani proses produksi selama kurang lebih satu bulan bersama para pemeran anak penyandang disabilitas.
Ia menyadari bahwa istilah “istimewa” bukan sekadar judul film atau pilihan kata untuk membungkus cerita. Sebutan tersebut, menurutnya, benar-benar menggambarkan kemampuan dan potensi yang dimiliki anak-anak itu.
“Anak-anak ini, yang tadinya kita sebut berkekurangan, setelah satu bulan saya bersama mereka, ternyata memang tepat kalau mereka itu disebut istimewa. Sangat tepat,” katanya.
Mathias merasa kagum karena enam anak penyandang disabilitas yang terlibat bukan berasal dari latar belakang aktor profesional. Meski demikian, mereka mampu menyelesaikan proses produksi dan memainkan peran penting dalam film.
“Dengan kemampuan mereka yang notabene bukan orang film, bukan aktor, tapi manusia yang punya potensi yang sama dengan kita yang kita anggap lebih normal. Hasilnya satu film jadi,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Mathias melihat bahwa kesempatan, bukan kemampuan, sering kali menjadi pembatas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi mereka.
Mathias menegaskan, keterlibatannya dalam film Istimewa bukan sekadar menjalankan peran sebagai seorang ayah di depan kamera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: