Menelusuri Jejak Kalender Lunar dalam Budaya Indonesia
Kalender lunar adalah sistem penanggalan yang berlandaskan pada fase bulan dan telah dipakai oleh berbagai budaya selama ribuan tahun, termasuk Indonesia.
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Artikel ini akan menyelami asal-usul, penggunaan, dan perbandingan antara kalender lunar dan kalender matahari.
Kalender lunar pertama kali muncul ribuan tahun yang lalu, dan catatan awalnya ditemukan di Mesopotamia.
Pada masa itu, fase bulan menjadi patokan utama bagi masyarakat dalam menentukan waktu, khususnya untuk kegiatan pertanian.
Bulan baru dan purnama berfungsi sebagai penanda awal siklus pertanian, sosial, dan internasional, yang vital bagi komunitas dalam merencanakan kebutuhan hidup.
Sejumlah budaya lain, termasuk Cina dan India, juga mengadopsi kalender lunar dan menjadikannya sebagai panduan waktu sehari-hari.
Di Indonesia, kalender lunar sangat berperan dalam penetapan hari-hari penting keagamaan, seperti Idul Fitri dan Imlek.
Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat
Hal ini menegaskan bahwa penanggalan lunar memiliki dampak besar dalam konteks sosial-budaya di masyarakat.
Selain itu, tradisi pasar malam dan festival juga tidak lepas dari penggunaan kalender lunar, di mana banyak perayaan dilaksanakan bertepatan dengan fase bulan purnama.
Di sisi lain, masyarakat di negara barat umumnya lebih memilih kalender matahari, namun mereka tetap merayakan fase bulan yang signifikan.
Perbedaan utama antara kedua sistem penanggalan tersebut terletak pada cara penghitungan waktunya.
Kalender lunar mengikuti fase bulan, sedangkan kalender matahari didasarkan pada orbit bumi mengelilingi matahari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: