Mengenali Tanda-Tanda Penuaan Dini pada Otak
Penuaan tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada otak. Banyak dari kita mungkin tidak menyadari tanda-tanda awal yang menunjukkan bahwa otak mulai menua lebih cepat.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Dr. Vassily Eliopoulos, seorang pakar umur panjang dan kesehatan otak, memperingatkan bahwa tanda-tanda ini sering diabaikan. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan orang menganggapnya sebagai faktor stres atau kelelahan sehari-hari.
Salah satu tanda awal pada fungsi kognitif adalah kelelahan saat berbicara, bahkan untuk obrolan ringan. Dr. Vassily menekankan bahwa otak yang sehat seharusnya melihat interaksi sosial sebagai stimulan positif, bukan beban.
Ketika neuron dalam mode overdrive atau terpapar peradangan, percakapan yang seharusnya ringan dapat mengakibatkan kelelahan mental. Ini menunjukkan bahwa metabolisme energi otak melambat, biasanya akibat kurang tidur atau stres.
Ketidakmampuan untuk mengingat kata-kata yang hendak diucapkan juga menjadi sinyal. Dr. Vassily menyebut ini sebagai 'celah pengambilan', sebuah kondisi di mana informasi terputus akibat kurangnya aktivitas neurotransmiter penting.
Baca juga: Mengapa Self Love Penting untuk Hubungan Sehat
Kenaikan tingkat iritabilitas tanpa alasan jelas bisa menjadi tanda neuroinflamasi. Ketika hormon stres seperti kortisol tetap tinggi, pengaturan emosi di otak dapat terganggu.
Dr. Vassily menjelaskan bahwa meningkatnya kemarahan dan frustrasi berpotensi mempercepat proses penuaan otak melalui kerusakan koneksi saraf. Seseorang bisa merasa lelah meskipun cukup tidur, yang menunjukkan kualitas istirahat otak yang buruk.
Kondisi tidur yang tidak efektif dapat memicu penumpukan plak amiloid, yang terkait dengan penyakit Alzheimer, sebuah kondisi serius yang perlu diperhatikan.
Perubahan sensitivitas terhadap suara dan cahaya juga dapat mengindikasikan masalah. Ketika sistem saraf menjadi terlalu reaktif, ini menunjukkan penurunan filter sensorik otak.
Menurunnya kejernihan mental setelah makan bisa disebabkan oleh fluktuasi glukosa atau peradangan yang mengganggu koneksi antara usus dan otak. Dr. Vassily memperingatkan bahwa konsumsi gula dan karbohidrat olahan dapat memperlambat kinerja mental.
Akhirnya, jika seseorang bingung di lingkungan yang dikenal, ini juga merupakan tanda peringatan. Hal ini sering terjadi ketika hipokampus menyusut akibat stres atau kurangnya stimulasi mental, mengakibatkan gangguan dalam proses memori.
Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: