Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa pembahasan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi masih terus berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa cadangan BBM dan LPG di Indonesia dalam kondisi yang aman.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Tahan Imbang 0-0 Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ia menyebutkan bahwa stok nasional BBM saat ini berada di atas 20 hari, sedangkan stok LPG juga cukup, yakni lebih dari 10 hari. Oleh karena itu, Bahlil meminta masyarakat untuk memanfaatkan kedua sumber energi ini dengan bijak.
Stok Energi yang Stabil
Dalam konferensi pers terbaru, Bahlil menyatakan bahwa Indonesia telah melewati masa kritis dalam pasokan energi meskipun ada gejolak geopolitik di Timur Tengah. Poin penting yang ditegaskannya adalah perlunya penggunaan bijak dari BBM dan LPG oleh masyarakat.
Sebagai langkah menjamin ketersediaan energi, pemerintah menerapkan campuran 50% biodiesel pada solar. Uji coba penggunaan B50 di berbagai alat transportasi menunjukkan keberhasilan dengan efisiensi mencapai 60% hingga 70%.
Proyek ini direncanakan untuk diluncurkan pada 1 Juli mendatang. Ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Impor dan Diversifikasi Sumber Energi
Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tidak lagi mengimpor BBM jadi dari Timur Tengah. Sebaliknya, Indonesia hanya melakukan impor crude oil dan melakukan diversifikasi sumber impor dari negara seperti Angola dan Amerika.
Namun, mengenai BBM jenis bensin, Indonesia masih mengandalkan impor dari negara tertentu. Sekitar 20-22 juta kiloliter bensin diperlukan setiap tahunnya, dengan laporan dari Ditjen Migas menunjukkan porsi impor mencapai 60,18% dari total kebutuhan pada tahun 2025.
Impor mayoritas bensin berasal dari Singapura, diikuti Malaysia dan Oman. Ini menggambarkan bagaimana ketergantungan terhadap impor masih menjadi tantangan bagi Indonesia.
Tren Kebutuhan Minyak Solar
Sementara itu, kebutuhan minyak solar juga mengalami peningkatan. Meskipun demikian, pemerintah berhasil menekan impor dari 12,17% pada tahun 2025 menjadi hanya 6,26% hingga Februari 2026.
Total kebutuhan minyak solar pada tahun 2025 tercatat mencapai 110.932 KL per hari, sedangkan pada Februari 2026 meningkat menjadi 111.356 KL per hari. Sumber utama impor solar yaitu Singapura dan Malaysia.
Data menunjukkan bahwa porsi impor solar dari Singapura mencakup 58,56%, dengan Malaysia menyusul di angka 36,56%. Hal ini mencerminkan langkah efektif pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: