Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keheranannya terhadap peraturan yang membebaskan anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari audit oleh negara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peringatan ulang tahun pertama Danantara yang digelar di Jakarta Selatan.
Baca juga: Mengapa Self Love Penting untuk Hubungan Sehat
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyatakan bahwa sejarah pendirian BUMN bertujuan untuk memenuhi kebutuhan strategis bangsa, namun kini banyak niat tersebut yang terabaikan.
Sejarah dan Tujuan Awal BUMN
Prabowo Subianto menegaskan bahwa BUMN didirikan dengan tujuan mulia untuk memenuhi kebutuhan strategis rakyat Indonesia pasca kemerdekaan. Misalnya, di awal kemerdekaan, saat sektor tekstil di Indonesia masih sangat minim, pemerintah mendirikan Patal Senayan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Ketika kebutuhan akan kertas untuk pendidikan meningkat, pemerintah juga berperan aktif dengan mendirikan pabrik kertas. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
"Tidak punya obat waktu merdeka, negara mendirikan perusahaan-perusahaan farma," ungkap Prabowo, yang menunjukkan fokus awal yang solid pada sektor kesehatan dan pendidikan.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Penyimpangan dalam Struktur Perusahaan
Perkembangan BUMN ternyata tak selalu sejalan dengan niat mula pendiriannya. Prabowo secara khusus mengkritik munculnya struktur yang kompleks akibat pembentukan anak dan cucu perusahaan yang terlalu banyak.
Ia memberikan contoh Pertamina yang memiliki lebih dari 200 anak dan cucu perusahaan, menyebutnya sebagai situasi yang mengherankan. "Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan," kata Prabowo.
Pertanyaan muncul mengenai efisiensi dan pengelolaan sumber daya di dalam BUMN yang seharusnya fokus pada tujuan awal mereka.
Aturan Audit yang Kontroversial
Prabowo mengamati adanya aturan yang aneh di mana BUMN dapat diaudit oleh negara, tetapi tidak untuk anak perusahaan mereka. "Peraturan dari mana ini?" tanyanya tegas.
Ia menilai adanya celah dalam aturan tersebut yang dapat dimanfaatkan dan harus segera ditinjau kembali. Menurut Prabowo, penting untuk memiliki satu manajemen yang terintegrasi dan rasional.
"Konsolidasi, satu manajemen dengan rasional, dengan standar-standar terbaik dunia, return on asset saya terima di atas 300%. Ini masih jauh dari sasaran kita," tegas Prabowo, mencerminkan optimisme menantang yang mendasari pandangannya.
Baca juga: Olah TKP Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni, Polisi Kembalikan Beberapa Barang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: