Senin, 09 MARET 2026 • 10:55 WIB

Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Author

Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei baru saja resmi terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Dia menggantikan posisi ayahnya setelah kepergian yang dipicu oleh serangan dari Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia

Pemilihan ini dilakukan oleh Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior, menunjukkan bahwa kekuatan garis keras di negara itu masih signifikan di tengah berbagai pergolakan yang ada.

Pemilihan dan Latar Belakang Mojtaba

Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun, diangkat sebagai pemimpin tertinggi sejalan dengan kematian ayahnya. Pemilihan ini merupakan indikasi jelas dari dominasi kekuatan garis keras di Iran.

Dalam video yang dibagikan, Mohsen Heidari Alekasir, anggota Majelis Pakar, menekankan bahwa pemilihan Mojtaba mengikuti petunjuk sang mendiang, yang menyatakan bahwa pemimpin harus 'dibenci oleh musuh'. Pernyataan ini mencerminkan situasi politik yang kompleks, terutama mengenai sikap negatif AS terhadapnya, termasuk pernyataan Donald Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan 'tidak dapat diterima'.

Mojtaba telah membangun kekuasaan dengan dekat bersama ayahnya, serta memiliki hubungan erat dengan pasukan keamanan, termasuk Garda Revolusi Iran (IRGC). Kedekatannya ini diduga memberikan dampak besar dalam dinamika politik dan keamanan di Iran.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Tindakan Massa

Peran dan Tantangan di Depan

Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba mempunyai wewenang untuk menentukan kebijakan akhir negara, yang mencakup isu-isu vital seperti kebijakan luar negeri dan program nuklir. Hal ini menjadi perhatian utama bagi kekuatan Barat yang berusaha mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Di tengah kekuasaan yang diperolehnya, Mojtaba dihadapkan pada tantangan serius berupa ketidakpuasan masyarakat Iran yang menginginkan kebebasan lebih. Meskipun ada penindasan dari aparat keamanan, diperkirakan demonstrasi dan protes akan meningkat setelah pelantikan ini.

Lahir di Mashhad, dia telah terlibat aktif dalam perlawanan terhadap Shah di masa lalu. Meskipun karier politiknya belum resmi dikenal luas, kehadirannya dalam aksi loyalis di Iran cukup terlihat, walaupun dia jarang berbicara di depan publik.

Kontroversi dan Kritikan

Sejak terpilih, Mojtaba menghadapi beragam kritik terkait latar belakang dan kelayakannya untuk jabatan tersebut. Banyak orang mempertanyakan kapasitas keagamaannya, terutama karena gelar Hojjatoleslam yang dimilikinya berada di bawah pangkat Ayatollah.

Terlepas dari kritik yang diterimanya, Mojtaba tetap menjadi kandidat terkuat untuk posisi ini, khususnya setelah kematian kandidat lain, termasuk mantan Presiden Ebrahim Raisi yang meninggal dalam kecelakaan helikopter pada tahun 2024.

Penting untuk dicatat bahwa Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadapnya pada tahun 2019, menjelaskan bahwa dia mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi, meski belum diangkat secara formal ke posisi pemerintahan.

Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU